Rabu, 13 Februari 2013

Cerpenku yang ada di Joefiksi Volume I: SURAT CINTA NAYLA

Cerpenku yang ada di Joefiksi Volume I
SURAT CINTA NAYLA


Lembayung senja terlihat di ufuk barat. Menampilkan keindahan yang memukau. Semburat mega mengintip di balik langit. Seorang gadis manis berambut panjang dengan tubuh langsing, berhidung mancung, dan berwajah polos tanpa make up sedang  asyik menunggu bus di bawah pohon mahoni.  Pipinya memerah, lamunannya mengembara. Dadanya berdetak kuat, ada rasa yang mengaduk hatinya.  Tak sabar membaca surat yang tadi siang diterimanya dari Roy teman sekelasnya.
Dengan tergopoh, di jam istirahat Roy menemuinya. “Nay, ini ada titipan dari Bobby.”
“Apaan Roy?” Nayla melihat ada amplop putih polos di tangan Roy.
“Gak tahu Nay, tapi pesen Bobby kamu bacanya di rumah.”
“Wah, surat cinta Nay,” ledek Lidya. Roy cenderung tanpa ekspresi.
Nayla menerima amplop itu. Mata teduhnya mengamati. Tak ada nama pengirimnya. “Surat apakah ini. Apakah surat cinta,” gumamnya dalam hati. Nayla tak sabar ingin membuka, tapi perasaan itu ditahannya. “Ah, belum tentu Lid,” jawab Nayla dengan pipi memerah. Ada debar dalam hatinya.

Konsentrasi Nayla sungguh terbagi. Pelajaran Fisika yang disampaikan Pak Hanafi hari ini tak disimaknya dengan sungguh-sungguh. Amplop putih yang tadi diterima dari Roy penyebab pikirannya bercabang. Dua jam terasa begitu lama. Selesai pelajaran Fisika. Nayla masih harus berjibaku menunggu bus yang akan ditumpanginya untuk pulang. Sementara hari menjelang magrib. Satu jam menunggu akhirnya bus itu datang juga.

Bus begitu penuh sesak. Nayla terpaksa berdiri di depan pintu masuk bus. Hawa sejuk mulai terasa menyeruak ketika melewati perkebunan karet yang begitu luas. Bus terseok-seok dengan muatan yang berlebih. Jalanan yang aspalnya mengelupas dan tak rata membuat para penumpang seperti berada dalam kapal yang terombang-ambing oleh ombak.

Pemandangan asri terbentang sesaat setelah turun dari bus. Jalanan berumput yang di kanan kirinya sawah menghijau bagai hamparan permadani. Namun terlihat agak remang di mata Nayla. Karena rumahnya yang terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota. Tak ada aliran listrik yang menjangkau rumahnya. Rumah yang terbuat dari geribik bambu, sungguh minim dengan fasilitas rumah mewah. Tak ada air bersih. Apa lagi televisi. Nayla lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya petani. Ibunya, ibu rumah tangga biasa. Namun segala keterbatasannya tak menghalanginya meraih prestasi. Nayla menjadi juara satu di semester pertama padahal dia murid baru di SMP PGRI yang menerapkan masuk siang. Sebelumnya dia murid di sekolah swasta yang terpaksa ditutup karena tanah dan bangunannya disita oleh Bank.

Melewati sebuah jembatan kayu, sampailah Nayla di rumahnya. Dengan rasa yang tergesa Nayla sungguh tak sabar ingin segera membaca surat cinta yang belum pernah diterimanya selama ini. Keadaannya tak memungkinkan. Rasa penasaran masih harus menguasai hatinya. “Sabar, Nay. Tunggu sampai semuanya tidur,” ucapnya dalam hati.

Pukul 21.00 WIB, malam terasa begitu gigil. Dingin menyergap tubuhnya. Di luar hening, hanya terdengar suara jangkrik dan desau angin. Nayla pelan-pelan mengambil amplop putih yang tersimpan di dalam tasnya. Nayla mulai merobek amplop putih polos. Nayla gemetar. Ini pertama kali dapat surat dari seseorang. Benarkah surat cinta seperti kata Lidya? Amplop putih itu sudah lemas tertidur di lantai tanah. Kini Nayla memegang amplop merah jambu. Bau harum menyerbak ke mana-mana. Wanginya sangat nyaman untuk dihirup.

“Untuk Nayla inspirasiku.” Tertulis kalimat romantis di amplop merah jambu itu. Hati Nayla bergetar.  Disobeknya amplop pink itu. “Owh,” pekiknya dalam hati. Ternyata di dalamnya kertas warna pink juga dengan motif bunga. Bau harum yang tadi diciumnya semakin kuat. Tangan Nayla tambah gemetar. Ada perasaan takut. Bagaimana kalau tiba-tiba kakaknya terbangun memergokinya. Pasti akan mengadukan kejadian itu ke ibunya atau kalau tidak akan mengejeknya membuat hidung Nayla kembang kempis karena malu, tapi segera ditepisnya pikiran itu. Nayla mulai membuka lipatan kertas merah jambu bermotif bunga  dan membacanya.

Nayla, sejak pertama melihatmu
Ada yang aneh dihatiku
Senyummu selalu hadir
Begitu manisnya Nayla
Sampai mengganggu tidurku
Nayla, kau sempurna di mataku
Pintar, cantik, manis, baik pula
Nayla, bolehkah aku mengagumimu
Nayla, aku tak bisa mengartikan rasa ini
Kucoba mencari jawabannya
Kini aku tahu.
Aku sungguh jatuh cinta padamu Nayla
Ya,  rasa yang pertama kali bagiku
Nayla, kau inspirasiku
Aku sungguh mencintaimu
Aku harap kau pun sama
Nayla, tolong balas suratku
Jangan biarkan aku resah menunggu
I Love U

Andre

Deg ... Deg ... Deg ... Jantung Nayla berdegup sangat kencang. Wajahnya merah padam. “Ooh beginikah rasanya kalau membaca surat cinta?” tanyanya dalam hati. “Andre, benarkah dia yang menulis surat ini?” tanyanya lagi. Nayla seperti tak asing dengan tulisan itu, “Ooh siapakah?” ucapnya dalam hati sembari mengingat-ingat. Andre itu sangat pendiam. Mungkinkah dia bisa merangkai kata-kata begitu menyentuh hati Nayla. Kenapa Nayla tak yakin itu dari Andre. Entahlah, begitu banyak pertanyaan yang tak bisa dijawabnya membuat kepalanya pusing. Diilipatnya lagi surat itu dan dimasukkan di amplopnya. Nayla berusaha menenangkan hatinya.

***

Suara riuh  terdengar menyakitkan telinga. Hari ini Pak Johan, guru yang mengajarkan Bahasa Indonesia tak hadir, hanya memberikan catatan untuk ditulis Nayla di papan tulis. Inilah saatnya Nayla mencari tahu, benarkah surat cinta itu dari Andre.
“Andre, aku pinjam catatannya ya, boleh nggak?”
Laki-laki pendiam itu menoleh. Dengan cuek dia menjawab, “Boleh kok Nay, tapi tulisanku nggak rapi.”
“Nggak papa kok.” Nayla menerima buku Andre dengan senyum mengembang. Sementara sikap Andre tak menunjukkan kecanggungan sama sekali. Sikapnya itu membuat Nayla bertanya-tanya. “Begitukah reaksi orang yang mencintainya?”

Tanya Nayla sedikit terjawab saat dia sandarkan tubuhnya di bangku kayu. Tangannya mulai membuka lembar demi lembar buku tulis catatan Andre. Matanya melotot, tulisan di buku tulis Andre  sama sekali tak mirip dengan tulisan di surat cinta itu. “Oh Tuhan, siapa sebenarnya pengirim surat cinta itu?” Nayla merasa sedih. Hatinya luka. Dia merasa diperdaya. “Ataukah Andre meminta seseorang menuliskan untuknya? entahlah.” Kepala Nayla terasa berat.

“Nay, ada apa?” suara Lidya mengaketkannya.
“Aku ...” Nayla tak meneruskan kata-katanya. Matanya menatap ke arah Lidya. Seperti mencari keyakinan kalau Lidya tak akan membocorkan rahasianya.
“Ada apa?”
“Aku kemarin menerima surat cinta Lid.”
“Tuch kan bener surat cinta.”
“Lydia, jangan keras-keras dong ngomongnya. Aku kan malu.”
Sorry, sorry. Hehehe. Dari siapa?”
“Dari Andre, tapi kok tulisannya gak sama ya?”
“Tulisan siapa?”
“Tulisan Andre dan tulisan di surat cinta itu. Iiih, kamu nich.”
“Oh ya? kamu kok tahu?”
“Lidya, lama-lama kamu buat aku kesel dech. Kan tadi aku pinjem buku Andre.”
Ok, ok. Sorry, sorry, hehehe. Habis mukamu itu kelihatan merah. Lucu.”
“Yey, udah ah. Tuch udah bel. Pulang yuk.” Sungut Nayla.

***

Malam meremang, menambah keheningan yang menghentak dada. Nayla tak dapat memejamkan matanya, dengan penerangan lampu sentir. Dibaca lagi surat cinta itu. Bayangan beberapa orang berkelebat di rongga kepalanya, “Aku harus membalas surat itu. Dengan membalas mungkin saja aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi,” ucapnya dalam hati sembari mengambil buku tulis dan merobek di bagian tengah buku. Nayla sendiri belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Dituangkannya perasaannya itu dalam surat balasannya. Remang-remang cahaya lampu sentir membuat Nayla harus menulis begitu dekat.
                              
Andre, maaf ya aku balas suratnya baru sekarang
Terima kasih untuk surat cintamu
Terima kasih telah mengagumiku
Terima kasih juga telah mencintaiku
Tapi maaf aku hanya bisa menganggapmu teman biasa
Aku belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta
Aku tak ingin main-main dalam cinta
Untuk saat ini aku hanya ingin fokus belajar
Karena menurutku
Buat apa beli Lemari
Kalau tidak diisi kain
Buat apa memadu kasih
Kalau tidak menjadi kawin
Aku belum siap pacaran
Maaf ya Andre ...

Nayla

Nayla usianya masih muda, tapi begitu dewasanya dia, mungkin keadaan orang tuanya yang membuat Nayla begitu. Ibarat buah matang sebelum waktunya. Dia tak menikmati masa remajanya selayaknya anak lain seusianya.

Sebelum masuk kelas. Nayla serahkan surat itu ke Roy. Nayla berharap Andre akan mengerti. Andre tidak akan marah dengan surat balasannya. Andre juga tidak akan tersinggung. Ternyata saat jam istirahat justru Nayla terkaget karena kata-kata Bobby.
“Nay, buat apa memadu kasih kalau tidak menjadi kawin ya?”
“Hahahaha.” Belum hilang rasa kaget Nayla, tiba-tiba terdengar Rahmat tertawa terbahak-bahak. Nayla mengalihkan pandangannya ke Andre, tapi Andre hanya menundukkan kepalanya.
“Hmm ... Bobby tahu dari mana dia. Rahmat kenapa tadi ketawa seperti itu?” Nayla kesal tapi tak menegur mereka. Dalam hati Nayla bergumam. “Jangan-jangan  mereka baca surat balasan Nayla rame-rame. Untung gak diterima cinta Andre. Kalau Nayla terima bisa-bisa hanya pura-pura dan mereka akan mempermalukannya.” Nayla sibuk dengan pikirannya sendiri. Nayla berlalu meninggalkan mereka. Dilihatnya Lidya sedang duduk di depan kelas.

“Lid, aku curiga dech. Bobby, Rahmat sama Andre itu ngerjain aku.”
“Kamu kok menyimpulkan begitu Nay.”
“Habis tadi Bobby tahu aku nulis apa di surat balasanku. Terus Rahmat ketawa ngakak lagi. Menyebalkan Lid.”
“Masa’ Nay?”
“Iya Lid. Aku juga kaget.”
“Nay aku ingin menyampaikan sesuatu sama kamu.” Sebuah suara mengagetkan Nayla.
“Ada apa Ris?”
“Rahmat itu suka sama kamu.”
“Maksudnya?”
“Rahmat itu Playboy Nay. Aku pernah pacaran sama dia. Mana mau dia dikalahkan sama cowo lain di kelas ini. Aku dulu diputusin sama dia gara-gara dia suka sama Silvia, eh ternyata Silvia juga diputusin. Gak tahu Rahmat itu maunya apa?, tapi Rahmat itu suka sama kamu Nay.”
“Suka, masa’ sich?”
“Iya Nay, dia suka sama kamu karena kamu pintar tapi dia gengsi aja ngakuin.” Nayla kaget. Sama sekali dia tak menduga Risa menyampaikan itu ke dia apalagi ada Lidya, yang jelas-jelas menerima surat cinta dari Rahmat kan Lidya.
“Tapi Ris, yang menerima surat cinta dari Rahmat itu Lidya.”
“Iya. Aku tahu kok.”
“Ha ... apa? tahu dari mana?”
“Aku dengar gak sengaja saat Rahmat ngobrol Nay.”
“Apa ...?” Mata Nayla terbelalak, dia penasaran benarkah Risa tahu sesuatu.
“Rahmat bilang ke Bobby dan Andre. Dia suka sama kamu karena kamu pintar Nay. Tapi dia juga suka sama Lidya karena Lidya itu cantik.”
“Tapi aku gak suka tuch sama Rahmat.” Lidya yang dari tadi diam langsung bersuara dan memandang ke arah Nayla.
“Iya jangan Lid. Biar tau rasa dia.” Risa terlihat kesal.

Rahmat sungguh membuat Nayla kesal. Kenapa harus memakai nama Andre untuk mengirim surat kepadanya. Kenapa juga Andre mau saja. Nayla juga tak suka Rahmat, tapi Nayla penasaran. Tidak bisa didiamkan. Dia harus cari tahu apa benar yang dikatakan Risa. Lalu siapa sebenarnya yang menulis surat cinta untuknya. Batinnya bergolak. Dengan langkah tergesa didekatinya kerumunan Rahmat dan gengnya. Di sana ada Bobby, Roy, dan juga Andre.

“Bob, aku mau tanya?”
“Soal apa Nay?”
“Tadi kenapa kamu meledekku dengan balasan suratku ke Andre. Sebenarnya siapa yang mengirim surat itu?”
Bobby membisu, justru tawa Rahmat yang terdengar, “Hahahaha, Nayla manis, gak usah marah gitu dong.”
“Rahmat, kamu yang menulis surat itu ya?”
“Iya, kenapa?”
“Jadi, apa yang dikatakan Risa itu benar?”
“Risa? Memang Risa bilang apa?”
“Kamu yang menulis surat cinta untuk aku dan Lidya?”
“Iya, lalu kenapa?”
“Rahmat, kamu cuma mau mempermainkan aku kan? Andre, kenapa kamu juga mendukung Rahmat? Kenapa kamu mau nama kamu dipakai? Bobby, kamu juga .. Roy kamu .. Kalian semua jahat. Kalian jahat. Kalian mempermainkan aku.” Nayla berlari dengan pipi basah. Rasa perih merajai hatinya. Roy berlari mengejarnya.
“Nay, Nay, tunggu ..” Nayla tak mempedulikan. Dia terus berlari menuju kamar mandi sekolah.
“Ya Tuhan, ini surat cinta pertamaku. Mereka tega membuat hatiku sakit,” gumamnya lirih. Air matanya terus menetes sederas air kran kamar mandi. Membasahi wajahnya yang polos. Hati Nayla terasa hancur berkeping. Nayla merasa mereka semua bersekongkol menipunya.

Cirebon, 04 Desember 2012


PENGAKUAN DIRI SETELAH MEMBACA INDONESIA MENULIS (PERJALANAN SPIRITUAL)

PENGAKUAN DIRI SETELAH MEMBACA INDONESIA MENULIS (PERJALANAN SPIRITUAL)


Dua buku dari enam buku kiriman Pak EWA sudah selesai saya lahap. Masing-masing buku saya baca dalam waktu sekali duduk, maksudnya langsung selesai dibaca tanpa disela dengan aktivitas lainnya. Tentunya saya lakukan di saat anak-anak sudah tidur. Aktivitas pagi saya yang bekerja sampai sore dan dilanjutkan kuliah di malam hari tak mengurangi minat saya untuk mencari tahu isi buku “INDONESIA MENULIS (PERJALANAN SPIRITUAL)”. Dini hari tadi pagi tepatnya pukul 01.00 WIB saya selesai membaca buku itu.

Berhamburan rasa melingkupi hati saya. Bagaimana tidak? Membaca buku itu seakan saya berada di beberapa tempat di Jawa Timur. Buku itu membawa saya menikmati perjalanan tour de jatim dalam gerakan Indonesia Menulis dan saya seperti ada di antara mereka. Tour de jatim yang dilaksanakan di beberapa universitas dan pesantren di Jawa Timur itu menyajikan kisah para penggiatnya ditambah foto-foto pelaksanaan terasa nikmat untuk dilahap. Terlebih di bab terakhir buku itu masing-masing penggiat tour de jatim menuliskan kesaksiannya.

Terbersit keinginan dalam hati saya. Nama saya harus ada dalam Buku Indonesia Menulis selanjutnya. Harus! Mungkin keinginan yang terlalu besar, tapi bukankah hal yang baik bila kita mempunyai keinginan sebagai wujud menggairahkan kehidupan. Bagi saya GPM adalah grup kepenulisan yang mempunyai nilai history. Mengenal Pak EWA di GPM adalah saat yang saya sebut masa pembangkitan semangat menulis saya. Saya yang anggota baru dipercaya oleh beliau untuk tantangan membuat buku dengan memposting tulisan setiap hari beserta empat teman saya lainnya yang beliau sebut Lima Srikandi GPM.

Di awal Juli tahun 2012 tulisan kami mulai diposting. Saat itu saya hanya menuliskan apa yang ada di otak saya dan dengan pede menyebut tulisan yang saya posting selama 45 hari itu sebagai naskah novel. Dari sanalah proses itu bermula, saya belajar dari komentar teman-teman yang membaca. Walaupun baru berupa naskah, tapi hal itu yang memicu saya terus menulis hingga di awal Februari tahun ini saya menyelesaikan satu naskah novel lagi yang saya kirimkan mengikuti lomba novel Bentang Pustaka. Apapun hasilnya saya tetap akan bahagia karena saya telah menuliskannya. Bukankah menulis adalah melakukan begitulah kata Pak EWA dan masih mengutip tulisan beliau bahwa menulis adalah proses belajar. Saya lagi-lagi setuju.

Lalu kepercayaan beliau tidak hanya sampai di situ. Beliau memberikan amanah kepada saya untuk menghimpun karya teman-teman dalam rencana antologi cerpen GPM dan saat beliau menawarkan pembentukan GPM Cirebon saya menyetujui dengan harapan teman-teman dapat termotivasi seperti saya. Adapun kegagalan saya sampai hari ini adalah belum terkumpulnya tulisan-tulisan teman-teman GPM Cirebon yang telah diterbitkan menjadi buku.

Dari semua pengakuan itu, sebuah pertanyaan mengganjal hati saya. Apakah teman-teman GPM Cirebon siap membantu mewujudkan mimpi saya? GPM Cirebon dan anggotanya akan menjadi bagian dalam gerakan Indonesia Menulis selanjutnya. Semoga, karena saya percaya tak ada yang tak mungkin bila Allah menghendaki. Amin. Akhirnya saya tuntaskan curhatan ini dengan harapan.

Cirebon, 13 Pebruari 2013

Rabu, 09 Januari 2013

DEMI MASA DEPAN YANG TAK BIASA


DEMI MASA DEPAN YANG TAK BIASA

PUISI INI JUGA TELAH MASUK DI LINK INI:
http://www.bengkelpuisi.net/menning-alamsyah.html

kudekap pagi dengan resah
mengasah lara yang menghujam dada
adakah secuil aroma bahagia
tersuguh di meja siang 
yang kautitipkan lewat kata

mungkin tak kauraba
sudut hatiku yang berdarah
mengaliri sendi-sendi semangat
di sekujur tubuh rapuh
yang tersirat ketegaran

ah, sudahlah
harus kuhalau segala nestapa
tak ada guna
mengharap pada angin 
yang tak lagi desau

di sini, kuuntai asa
mengarungi segala lupa
cerita masa lalu
tuk masa depan
yang tak biasa

 Cirebon, 28 November 2012

ADA TAPI TIADA

ADA TAPI TAK ADA


aku masih mendekapmu
dalam angan dan imajinasi
bayangmu juga sesekali melintas
menghadirkan perih sileti hati

apakah kau mengerti?
jejak kita di lembar hari
telah hadirkan kenangan
tentang canda tawa

ya, canda tawa  
yang terukir di bawah pohon mangga
lambaian daunnya menjadi saksi
kala kita reguk senyum rekah

ah, semua sudah hilang rupanya
kini, tak kutemukan dirimu yang dulu
kau telah berubah karena rasa cintamu padanya
jauh lebih besar dari cintamu padaku

sahabat, di antara sedikit tatap pandangmu
doaku, kau bahagia dengan pilihan hatimu
hadirmu yang tak nyata itu
buatku mereguk pilu

maaf! ada bercak hitam tentangmu
sebabkan aku mengganggap
kau ada, tapi tiada

Cirebon, 12 Desember 2012

Selasa, 08 Januari 2013

KAU YANG SELALU MENEMANI

KAU YANG SELALU MENEMANI

mengenalmu dalam perih hati
lalu kau menyapaku dalam setiap detak nadi
menghentak inginku yang tersembunyi

melewati jalan berduri
nyatanya kau masih terpilih
mengisi tawa dan sedih

walau sudah berkali
coba kuhalau hadirmu
benamkanmu di dasar lupa

kau tetap hampiri
dengan senyum penuh arti
hingga aku terus mencari

sebenarnya, kan ke mana aku
kau bawa pergi?

Cirebon, 10 Desember 2012

Puisi di Media Online


puisi ini juga telah dimuat Radar seni di : http://radarseni.com/2013/01/06/puisi-menning-alamsyah-2/


KAU DAN AKU MASIH BERSAMA DEMI MEREKA UNTUK SENYUM REKAHNYA DAN UNTUK MAMA


(I) KAU DAN AKU
tahun telah berganti dan aku masih bersamamu
seperti air mata ini yang tak pernah kering
mengaliri luka di sekujur raga
yang kautanam benih-benih nestapa

sementara kau masih mendekapnya mesra di rumah kita
dan kau tetap mendewakannya
terbang mengawang penuh canda

ah, tak perlu kupetik harapan
karena telah busuk tersiram hujan air mata
dan aku masih tetap sama
menikmati melodi sayatan perih di dada
menatap kau menggelepar dalam cumbunya
sekarang, nanti, dan mungkin selamanya

(II) MASIH BERSAMA
hujan mulai mereda
seiring tangisku yang terhenti paksa
dan aku masih mengeja lara
menguntai letih di kertas putih
bersama puisi

pernahkah kaurasa
kita telah terjebak dalam rumah duka
yang pengap tak bercahaya?
ah, entahlah
nyatanya walau lelah
aku masih di sini
memegang erat tanganmu
hingga kini

(III) DEMI MEREKA
di liku takdir
aku terdiam gamang
menatap dua arah

katamu kau tak akan meninggalkannya
dia segalanya bagimu
dan aku hanya membisu

bukan aku tak mampu
hidup tanpamu
tapi dua hati tak berdosa
memaksaku menerima kau dan dia

kubiarkan kaukoyak lembar harapan
bersisa remah-remah luka bernanah
aku tak berdaya
di sampingmu kutahan selaksa lara
dengan senyuman indah

(IV) UNTUK SENYUM REKAHNYA
aku tetap bertahan
walau perih menguliti hati
dan aku masih percaya
tak ada yang sia-sia

kan kusiapkan jubah perkasa
tuk halau rajam sembilumu
hingga tak kurasa
walau tetes darah air mata
menggenang di sudut rumah

tak kubiarkan
dua pasang mata membasah
menatapku tenggelam
dalam lautan nestapa
kan kuhadiahkan senyum rekah
di sepanjang harinya

(V) DAN UNTUK MAMA
sejatinya cinta memberi
tanpa pernah meminta
mama, itu untaian kata indah
yang pernah kaurangkai untukku

malam ini ingin kurebahkan rasa
dalam dekap hangatmu
kan kuadukan segala resah gelisah
di antara rentang ruang dan waktu

inginku lembut belaimu
menghapus bening air mataku
mama, walau kita terpisah raga
kau selalu hidup dalam pijar hatiku

kini hanya secawan doa
yang mampu kukirimkan
berteman rindu membuncah
kan kujaga setiaku untuknya
agar kau bahagia di alam sana

Cirebon, 01 Januari 2013

REVIEW KUMCER

JUDUL : BAPAK: RIAK LILIN HIDUPKU
PENULIS: AANG M. M. SYAFII
PEMERHATI AKSARA: TRISTANTI
DESAIN SAMPUL: ANTO
TATA LETAK: AGA
DITERBITKAN: LEUTIKA PRIO
CETAKAN PERTAMA: SEPTEMBER 2011
TEBAL: IV + 59 HALAMAN

Kumcer berisi sembilan cerpen ini sungguh menarik untuk dibaca, berbagai kisah tentang bapak tersuguh apik dengan bahasa yang sederhana. Awalnya saya sempat terkecoh saat melihat cover yang menampilkan foto laki-laki tua. Di pikiran saya, buku ini kisah nyata penulisnya.

Saat membaca cerpen ke lima “WAKTU BAPAK MENGINAP” saya sempat mengrenyitkan dahi karena tokoh “aku” yang semula laki-laki berubah menjadi wanita. Saya mulai menyadari bahwa kumcer ini tidak menceritakan kisah nyata si penulis. Saya sempat kehilangan konsentrasi dan membaca ulang cerpen sebelumnya. Setelah membaca ulang justru cerpen ke lima ini yang berhasil membuat emosi saya turun naik, terlarut dalam kisahnya. 

Emosi saya kembali bergolak ketika membaca cerpen ke delapan “SETELAH DELAPAN BULAN” . Cerpen yang berkisah tentang sosok seorang bapak yang rela menjadi penjarah pohon jati yang akhirnya dipenjara selama delapan bulan menunjukkan sifat yang berbeda setelah keluar dari penjara bahkan untuk sekedar menatap mata “aku”. Ketika sang bapak memutuskan merantau ke kota untuk bekerja, saya terlarut pada bagian ini. Adegan “aku” dan keluarganya melepas bapak pergi berhasil mengaduk-aduk hati saya.

Bukan itu saja, “Bapakku memang bukan orang biasa.” (Halaman 47) adalah kalimat yang luar biasa bagi saya. Kalimat ini mempunyai kekuatan yang berbentuk pengakuan, bahwa bapak bagi si penulis apa pun karakternya adalah orang yang berbeda dengan orang lainnya.

Selain itu, buku kumcer yang tergolong tipis ini memberi nilai plus bagi pembaca seperti saya yang tak mempunyai banyak waktu luang. Buku ini bisa menjadi teman kala kita menunggu bus, dalam perjalanan atau waktu istirahat di kantor. Buku mini dengan nilai yang besar di dalamnya. Memberikan nilai tentang perjuangan seorang bapak yang mungkin kita melupakannya. Sayang, si penulis tidak memperjualbelikan bukunya. Beruntunglah saya bisa membaca buku ini secara gratis.

Bapak: Riak lilin hidupku. Menurut saya judulnya menyuguhkan tentang hal yang tak biasa. Kalau biasanya riak itu identik dengan air, kali ini disandingkan dengan lilin. Bagaimana kalau, Bapak: kerlip lilin hidupku? Ah, biarlah pembaca yang menilainya. Namun, seperti halnya saya yang terkecoh di awal. Sebaiknya adalah jangan menilai sesuatu dari yang tampak dari luar karena belum tentu kebenarannya dan mungkin penulis ingin membuat penasaran dengan judulnya.

Selesai membaca, rasa melow mendera hati saya. Jadi teringat bapak yang telah tiada. Sepenggal lagu mengalun lembut di sanubari saya: “Untuk ayah tercinta, aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi.” 

Bapak, walau kita terpisah ruang dan waktu, bapak kan selalu menyala di pijar hatiku. Ini ungkapan saya. Kalau bagi penulis bapak berarti lilin di kegelapan hidupnya, bagaimana dengan Anda?

Cirebon, 03 Januari 2012