(1)
Bila kau diingatkan lagi tentang kesakitan-kesakitan itu membuatmu ingin muntah tapi tak bisa. Suara gemericik air seakan menambah dendang luka di hatimu. Begitu kuat getarannya dan kau merasa semakin samar, tak terlihat, hilang. Bersisa hampa dalam kesepian.
(2)
Bersama hampa itu kau merenung. Mengolah hatimu yang telah membiru. Tidak, kau tak boleh hanyut dalam arus kelukaan itu. Bagaimanapun kau harus tetap ada, terlihat dalam bentuk yang jelas.
(3)
Kau tak boleh memadamkan percikan di hatimu sendiri. Kau membutuhkannya untuk kehidupanmu. Kumpulkan sisa-sisa percikan itu. Lalu, kau akan membuat pijar untuk menerangi dua hati. Ayo lakukanlah, sebab hanya kau yang bisa melakukannya.
(4)
Kau tak boleh lindap. Tidak. Kau selalu mampu mengatasi semuanya sendirian. Aku tahu, kau hanya teringat, setelahnya akan baik-baik saja, tapi bukankah kau hidup dalam dunia itu bertahun-tahun? Ya, seperti biasanya kau akan kembali berpijar setelah menuliskan beberapa rangkaian kata.
(5)
Dan akhirnya sebelum mentari datang, pekat malam sudah mampu menyembuhkan hatimu. Kau hanya butuh jeda untuk berdiam, merenung, menderaskan air mata, menulis, dan rangkaian kata menyembuhkanmu sementara.
Selasa, 27 Oktober 2015
TENTANG MALAM
(1)
Ada ruam-ruam perih menggigit hati. Entah, kenapa sedih begitu mudah menghampiri. Saat diri tak lagi bahagia bernaung pada satu tempat. Ke manakah hendak berlari. Sedang kaki masih tertancap pada janji.
Dan lagi akan ke mana kaulabuhkan air mata dua hati, bila tak dalam pelukanmu. Maka, bertahanlah di sana. Bukankah kau telah berjanji bahwa kau akan menyulam bening kristal dari matamu untuk senyum ranum mereka. Bila iya, usah gelisah sebab esok masih akan kembali.
Malam yang menjadi tempat kau rebahkan asa, memberi jeda tuk lupakan semua. Dengan lelap kau akan kembali ceria sebab ada doa-doa yang menjaga.
(2)
Rasanya begitu sulit melupakan. Di bilik hatimu yang manakah kau tempatkan aku? Sedang mengingat segala yang terjadi antara kita membuat aku kesulitan bernapas.
Sedang ini malam yang masih menyisakan gigil. Sedang aku kehilangan hangat sapamu. Ah, mungkin engkau lupa mengirimkannya atau udara tak ingin menyampaikannya?
Setiap kali kauingatkan tentang bayang-bayang itu. Aku terkesiap. Ada yang perih di hati ini. Ah, aku tahu bahwa di sanalah duniaku. Tempat aku harus menyerahkan jiwa dan raga. Namun, aku sudah tidak bisa tapi aku pun tak hendak mencari tempat lain. Mungkin menurutmu aku begitu rumit dan sulit dimengerti. Ya, bisa jadi.
Mendadak dada ini seperti balon yang kelebihan udara, sesak, mual dan entah. Ah, mari tidur saja dan melabuhkan rasa luka pada pekat malam hingga saat mentari datang, luka pun turut hilang.
Ada ruam-ruam perih menggigit hati. Entah, kenapa sedih begitu mudah menghampiri. Saat diri tak lagi bahagia bernaung pada satu tempat. Ke manakah hendak berlari. Sedang kaki masih tertancap pada janji.
Dan lagi akan ke mana kaulabuhkan air mata dua hati, bila tak dalam pelukanmu. Maka, bertahanlah di sana. Bukankah kau telah berjanji bahwa kau akan menyulam bening kristal dari matamu untuk senyum ranum mereka. Bila iya, usah gelisah sebab esok masih akan kembali.
Malam yang menjadi tempat kau rebahkan asa, memberi jeda tuk lupakan semua. Dengan lelap kau akan kembali ceria sebab ada doa-doa yang menjaga.
(2)
Rasanya begitu sulit melupakan. Di bilik hatimu yang manakah kau tempatkan aku? Sedang mengingat segala yang terjadi antara kita membuat aku kesulitan bernapas.
Sedang ini malam yang masih menyisakan gigil. Sedang aku kehilangan hangat sapamu. Ah, mungkin engkau lupa mengirimkannya atau udara tak ingin menyampaikannya?
Setiap kali kauingatkan tentang bayang-bayang itu. Aku terkesiap. Ada yang perih di hati ini. Ah, aku tahu bahwa di sanalah duniaku. Tempat aku harus menyerahkan jiwa dan raga. Namun, aku sudah tidak bisa tapi aku pun tak hendak mencari tempat lain. Mungkin menurutmu aku begitu rumit dan sulit dimengerti. Ya, bisa jadi.
Mendadak dada ini seperti balon yang kelebihan udara, sesak, mual dan entah. Ah, mari tidur saja dan melabuhkan rasa luka pada pekat malam hingga saat mentari datang, luka pun turut hilang.
UNTUK PEREMPUAN
(1)
Seorang perempuan akan ditempatkan pada tempat yang dia buat sendiri. Maka, bila kau ingin dihormati. Hormatilah dirimu sendiri. Lalu, apakah bisa menjadi alasan karena kau tidak bahagia membuatmu merusak rumah tangga orang lain. Dia juga saudaramu bukan sama sepertimu, seorang perempuan juga. Di saat kau membutuhkan seseorang carilah teman paling dekat bila tak ada maka berdoalah karena hanya Tuhan yang pantas kaupercaya. Lalu, bila kau masih tak bahagia, cobalah tuliskan apa yang kaurasa. Cobalah, kau akan lebih tenang. Aku membagi ini karena aku sudah mencobanya.
(2)
Lalu, kesakitan-kesakitan yang kauterima dalam hidupmu tak harus membuatmu menjadi tidak baik, bukan? Maka berhati-hatilah membagi ceritamu. Jangan sampai kau salah memberikan kepercayaan. Seseorang yang kaukenal dari dunia maya tak boleh kaupercaya begitu saja. Tanamkanlah ketidakpercayaan dalam hatimu agar itu menyelamatkanmu dari penipuan dan kesengsaraan selanjutnya. Memang tidak mudah memikul penderitaan sendirian, tapi usahakanlah sebab aku tahu perempuan adalah makhluk yang kuat. lebih kuat dari laki-laki.
(3)
Seorang perempuan akan ditempatkan pada tempat yang dia buat sendiri. Maka, bila kau ingin dihormati. Hormatilah dirimu sendiri. Lalu, apakah bisa menjadi alasan karena kau tidak bahagia membuatmu merusak rumah tangga orang lain. Dia juga saudaramu bukan sama sepertimu, seorang perempuan juga. Di saat kau membutuhkan seseorang carilah teman paling dekat bila tak ada maka berdoalah karena hanya Tuhan yang pantas kaupercaya. Lalu, bila kau masih tak bahagia, cobalah tuliskan apa yang kaurasa. Cobalah, kau akan lebih tenang. Aku membagi ini karena aku sudah mencobanya.
(2)
Lalu, kesakitan-kesakitan yang kauterima dalam hidupmu tak harus membuatmu menjadi tidak baik, bukan? Maka berhati-hatilah membagi ceritamu. Jangan sampai kau salah memberikan kepercayaan. Seseorang yang kaukenal dari dunia maya tak boleh kaupercaya begitu saja. Tanamkanlah ketidakpercayaan dalam hatimu agar itu menyelamatkanmu dari penipuan dan kesengsaraan selanjutnya. Memang tidak mudah memikul penderitaan sendirian, tapi usahakanlah sebab aku tahu perempuan adalah makhluk yang kuat. lebih kuat dari laki-laki.
(3)
Apapun kondisimu saat ini, tersenyumlah pada orang lain dan sudah berapa banyak orang yang kauberi senyuman pagi ini?
(4)
Kau akan tetap kelihatan seksi tanpa harus menunjukkan milikmu yang berharga. Buatlah laki-laki mengingatmu sebagai seseorang yang seksi dengan kelebihanmu yang lain bukan karena kau tak memakai baju.
TENTANG KITA
(1)
Memang tidak ada apa-apa antara kita. Kalaupun ada sesuatu tentang kita itu hanya perasaan saling peduli. Tidak ada yang lebih. Tapi, aku senang mengenalmu. Aku senang kecerewetanmu karena sudah lama tidak ada yang melakukan itu untukku. Jadi, tetaplah di sini.
(2)
Ada sepotong rindu yang menyelinap pelan di bilik hati Mungkin karena perbincangan yang belum usai entah rasa apa namanya ini tapi aku tersentuh dengan semua peduli katamu, "semalaman aku tak tidur. Memikirkan perasaanku padamu sayang atau simpati ternyata aku menyanyangimu sebatas teman." Tak apa, rasa sayang tak bisa dipaksakan aku mengerti, sebab aku pun tak bisa menerima yang lebih dari itu malam ini, lelaplah dan esok kau terjaga dengan rasa bahagia.
(3)
Entah ini hari ke berapa kita terlibat dalam perbincangan. Katamu, kau bukan orang yang sering mengingat hal-hal seperti itu. Ah, sedang aku seseorang yang sangat menyukai keromantisan, puisi, dan kedetailan. Sesuatu selalu aku abadikan dengan kata-kata. Ah, tak apa, tak sama bukan berarti kita tak bisa menjadi indah. Justru karena berbeda warna lukisan akan terlihat hidup. Sebab katanya persahabatan seperti pelangi.
Memang tidak ada apa-apa antara kita. Kalaupun ada sesuatu tentang kita itu hanya perasaan saling peduli. Tidak ada yang lebih. Tapi, aku senang mengenalmu. Aku senang kecerewetanmu karena sudah lama tidak ada yang melakukan itu untukku. Jadi, tetaplah di sini.
(2)
Ada sepotong rindu yang menyelinap pelan di bilik hati Mungkin karena perbincangan yang belum usai entah rasa apa namanya ini tapi aku tersentuh dengan semua peduli katamu, "semalaman aku tak tidur. Memikirkan perasaanku padamu sayang atau simpati ternyata aku menyanyangimu sebatas teman." Tak apa, rasa sayang tak bisa dipaksakan aku mengerti, sebab aku pun tak bisa menerima yang lebih dari itu malam ini, lelaplah dan esok kau terjaga dengan rasa bahagia.
(3)
Entah ini hari ke berapa kita terlibat dalam perbincangan. Katamu, kau bukan orang yang sering mengingat hal-hal seperti itu. Ah, sedang aku seseorang yang sangat menyukai keromantisan, puisi, dan kedetailan. Sesuatu selalu aku abadikan dengan kata-kata. Ah, tak apa, tak sama bukan berarti kita tak bisa menjadi indah. Justru karena berbeda warna lukisan akan terlihat hidup. Sebab katanya persahabatan seperti pelangi.
Minggu, 25 Oktober 2015
SAYANG KALAU DIBUANG PART 3
Puas-puaskanlah kau memandang rembulan sebab esok kau tak akan dapat
melihatnya. Perlu jeda untukmu menemukannya kembali. Seperti itu pula
cinta. Tak setiap waktu kau dapat mereguk nikmatnya. Kadang hanya
bersisa luka-luka.
Ada yang tertinggal memang bagaimana dulu dia mengasihimu. Atau
bagaimana dulu kau mengasihinya. Mengingatnya saja kadang membuatmu
menangis. Namun, hapuslah air matamu sebab selalu ada akhir dari setiap
perjalanan. Mulailah perjalananmu yang baru dengan tantangan dan warna
yang lebih indah.
Kadang sebagai manusia biasa aku ingin membagi sepotong kesedihan walaupun hanya berupa coretan, tapi tak perlu terlalu lama melakukan itu karena aku percaya bahwa tak akan dibiarkan hanya terjadi musim kemarau saja. Akan ada hujan yang menyegarkan. Yang aromanya dirindukan pepohonan. Sebab itulah sejatinya kehidupan.
Tidak, tidak, aku sedang rapuh saja. Selama ini aku sudah mengorbankan segalanya, tapi ada alasan untukku agar tetap terjaga.
Kekasihku pengatur segalanya, bolehkah aku tidur sangat panjang dan terbangun saat semuanya tidak rumit seperti sekarang?
Lalu, pada hampar luasnya kehidupan ini degan segala warna -warninya. Aku hanyalah setitik buih. Terombang ambing oleh arus. Entah, akan ke mana lagi arus ini membawaku. Walaupun aku lelah namun bila waktuku belum usai aku masih harus menikmatinya. Ya, aku tahu, Kekasihku. Aku hanya bisa mengikuti alurmu. Walau sudah segala daya kulakukan untuk bertahan. Aku mohon jagalah aku agar tetap kuat. Sebab aku lupa bagaimana rasanya bahagia.
Duniaku adalah menulis. Di mana pun aku berada. Mengenal orang baru dengan cerita baru. Ya, kalaupun kini kau hanya mencantumkan aku sebagai seseorang yang bisa menulis. Mungkin itu cukup buatku. Ya, aku tak bisa mengikuti duniamu, kesenanganmu. Mungkin aku ditakdirkan bukan untuk cinta dua manusia lebih kepada cinta yang lebih luas.
Pagi yang masih ditingkahi dengan batuk dan gigil. Aku butuh setumpuk semangat untuk menyelesaikan segalanya. Aku akan menghadirkannya seperti mentari yang tidak pernah lelah menyinari bumi.
Lalu, di langit-langit kamar kau seakan menonton adegan demi adegan, kau kesakitan sebab kau melihat seorang wanita menangis di sudut kamar. Berharap seseorang menolongnya, tapi kau tak bisa melakukan apa pun. Kecuali berdiam.
Malam ini entah malam ke berapa kau tak bisa memejamkan mata. Ada yang begitu riuh di pikiranmu. Namun, kau masih saja ingin menahannya sendirian. Biarlah air mata saja yang menemanimu.
Tak jarang kau membuat orang lain tertawa-tawa, tapi sebenarnya hatimu sendiri sedang luka. Ya, kau hanya tak ingin memperlihatkannya. Cukup hanya orang tetentu yang tahu. Seperi malam ini kau berlari-lari meninggalkan jejaknya walau masih saja ada duri yang menusuk di kakimu.
Kadang sebagai manusia biasa aku ingin membagi sepotong kesedihan walaupun hanya berupa coretan, tapi tak perlu terlalu lama melakukan itu karena aku percaya bahwa tak akan dibiarkan hanya terjadi musim kemarau saja. Akan ada hujan yang menyegarkan. Yang aromanya dirindukan pepohonan. Sebab itulah sejatinya kehidupan.
Tidak, tidak, aku sedang rapuh saja. Selama ini aku sudah mengorbankan segalanya, tapi ada alasan untukku agar tetap terjaga.
Kekasihku pengatur segalanya, bolehkah aku tidur sangat panjang dan terbangun saat semuanya tidak rumit seperti sekarang?
Lalu, pada hampar luasnya kehidupan ini degan segala warna -warninya. Aku hanyalah setitik buih. Terombang ambing oleh arus. Entah, akan ke mana lagi arus ini membawaku. Walaupun aku lelah namun bila waktuku belum usai aku masih harus menikmatinya. Ya, aku tahu, Kekasihku. Aku hanya bisa mengikuti alurmu. Walau sudah segala daya kulakukan untuk bertahan. Aku mohon jagalah aku agar tetap kuat. Sebab aku lupa bagaimana rasanya bahagia.
Duniaku adalah menulis. Di mana pun aku berada. Mengenal orang baru dengan cerita baru. Ya, kalaupun kini kau hanya mencantumkan aku sebagai seseorang yang bisa menulis. Mungkin itu cukup buatku. Ya, aku tak bisa mengikuti duniamu, kesenanganmu. Mungkin aku ditakdirkan bukan untuk cinta dua manusia lebih kepada cinta yang lebih luas.
Pagi yang masih ditingkahi dengan batuk dan gigil. Aku butuh setumpuk semangat untuk menyelesaikan segalanya. Aku akan menghadirkannya seperti mentari yang tidak pernah lelah menyinari bumi.
Lalu, di langit-langit kamar kau seakan menonton adegan demi adegan, kau kesakitan sebab kau melihat seorang wanita menangis di sudut kamar. Berharap seseorang menolongnya, tapi kau tak bisa melakukan apa pun. Kecuali berdiam.
Malam ini entah malam ke berapa kau tak bisa memejamkan mata. Ada yang begitu riuh di pikiranmu. Namun, kau masih saja ingin menahannya sendirian. Biarlah air mata saja yang menemanimu.
Tak jarang kau membuat orang lain tertawa-tawa, tapi sebenarnya hatimu sendiri sedang luka. Ya, kau hanya tak ingin memperlihatkannya. Cukup hanya orang tetentu yang tahu. Seperi malam ini kau berlari-lari meninggalkan jejaknya walau masih saja ada duri yang menusuk di kakimu.
Sabtu, 24 Oktober 2015
RASA SYUKUR
(1)
Lalu di titik-titik tertentu aku bersyukur, aku dianugerahi kemampuan berimajinasi. Kemampuan menuangkan apa yang aku rasa dan apa yang aku mau. Dengan menulis aku merasa menemukan teman sejati. Teman yang tak bisa mendustai. Teman yang paling mengerti. Yang dengannya aku bisa mengadukan apa saja.
(2)
Menemukan sesuatu hari ini. Semakin mengerti. Semakin menyadari. Ah, saya memang tidak ingin diketahui. Atau mungkin saya juga sulit diraih. Begitu sedikit yang dapat memahami. Itu kenapa saya merasa sepi. Namun, itulah saya. Biar semua orang pergi saya masih tetap di sini menjadi saya yang saya maui.
Lalu di titik-titik tertentu aku bersyukur, aku dianugerahi kemampuan berimajinasi. Kemampuan menuangkan apa yang aku rasa dan apa yang aku mau. Dengan menulis aku merasa menemukan teman sejati. Teman yang tak bisa mendustai. Teman yang paling mengerti. Yang dengannya aku bisa mengadukan apa saja.
(2)
Menemukan sesuatu hari ini. Semakin mengerti. Semakin menyadari. Ah, saya memang tidak ingin diketahui. Atau mungkin saya juga sulit diraih. Begitu sedikit yang dapat memahami. Itu kenapa saya merasa sepi. Namun, itulah saya. Biar semua orang pergi saya masih tetap di sini menjadi saya yang saya maui.
GELISAH
(1)
Masih saja ada rasa rindu yang mengurungku, sedang waktu terus berlalu. Entah harus ke mana rindu ini berpulang. Sebab aku tahu kau tak akan menerimanya lagi. Jadi, seharusnya aku membuang rindu ini saja. Ah, mungkin aku belum bisa.
(2)
Dan kau sudah menyerahkan rindumu untuk orang lain. Secepat itu. Mungkin seperti itulah kau mencintai. Sedang aku masih saja terhanyut arus gelombang kerinduan ini.
(3)
Entah, apakah aku harus berlari dari masa lalu. Membereskan semua kenangan dan memendamnya di palung hatiku yang terdalam. Kenapa kau begitu tega membuat dada ini begitu sesak. Kemana lagi aku harus menyimpannya? Terlalu banyak luka-luka hingga tak mampu lagi menampungnya.
(5)
Aku memang bukan orang yang bisa begitu saja melupakan. Walau begitu banyak kesakitan yang kuterima. Entah apakah sebenarnya aku masih cinta, atau aku masih belum bisa bangkit dari segalanya.
(6)
Walau begitu banyak yang datang menghampiri tapi cinta bukan seperti itu, menerima siapa saja yang mengetuk hati. Bagiku sangat tidak mudah untuk berpaling darimu.
(7)
Lalu, apa yang aku tuliskan hanyalah bagian dari apa yang ingin kutulis. Tak ada terbersit niatan untuk sesuatu hal yang lain. Sebab aku tahu, aku sudah lelah menyimpan harapan. Terlalu banyak kehilangan-kehilangan dan mungkin aku tak sanggup lagi kehilangan.
(8)
Aku hanya punya ketulusan dan hati sedang hati ini telah lama beku. Tak lagi menyala dan menggelora. Entah harus bagaimana aku hadirkan percikannya. Sebab aku tahu seharusnya tak ada tempat lagi untuk itu.
(9)
Kita tidak pernah tahu ke mana arus kehidupan membawa kita. Dan di perjalanan yang panjang itu kita sering bertemu dengan orang-orang yang mungkin hanya sekadar lewat atau orang-orang yang akan berarti dan meninggalkan kenangan.
(10)
Ini sudah dini hari. Ada banyak kisah yang kutemui di sini. Ada begitu banyak pengorbanan yang mesti ditempuh untuk suatu harapan. Ya, kita hanya menjalani. Pahit ataupun manis. Namun, percayalah bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu berpasangan.
(11)
Kekasihku pemilik alam semesta. Kadang aku menangisi jalan yang kaupilihkan untukku. Kadang aku mensyukuri aku masih bertahan d jalan ini. Kadang aku kosong dan hampa. Kadang aku hancur dan patah. Namun, aku tahu itu yang terbaik buatku.
(12)
Berjibaku dengan kesibukan. Walau badan ini terus mengaduh. Sedang pagi sudah mulai lenyap berganti siang yang garang. Kau yang jauh dari jangkauan. Entah siapa. Sebab aku tidak tahu harus ke mana melabuhkan rindu ini. Apakah kau juga sedang rindu?
(13)
Terpaksa mengalah sebab badan sudah minta ditidurkan. Ah, saat seperti ini betapa rindu kasih sayang. Engkau yang tersimpan dalam ingatan tak pernah lagi memberi kabar. Bahkan ketika itu kaubiarkan aku menanti. Hingga akhirnya engkau pergi. Sedang dia yang dekat tapi terasa ada sekat. Entah, haruskah kulalui sakit ini sendiri lagi? Sedang sekarang aku mulai merasa melayang terbang, dan begitu ringan. Atau mungkin ini sudah waktuku?
Masih saja ada rasa rindu yang mengurungku, sedang waktu terus berlalu. Entah harus ke mana rindu ini berpulang. Sebab aku tahu kau tak akan menerimanya lagi. Jadi, seharusnya aku membuang rindu ini saja. Ah, mungkin aku belum bisa.
(2)
Dan kau sudah menyerahkan rindumu untuk orang lain. Secepat itu. Mungkin seperti itulah kau mencintai. Sedang aku masih saja terhanyut arus gelombang kerinduan ini.
(3)
Entah, apakah aku harus berlari dari masa lalu. Membereskan semua kenangan dan memendamnya di palung hatiku yang terdalam. Kenapa kau begitu tega membuat dada ini begitu sesak. Kemana lagi aku harus menyimpannya? Terlalu banyak luka-luka hingga tak mampu lagi menampungnya.
(5)
Aku memang bukan orang yang bisa begitu saja melupakan. Walau begitu banyak kesakitan yang kuterima. Entah apakah sebenarnya aku masih cinta, atau aku masih belum bisa bangkit dari segalanya.
(6)
Walau begitu banyak yang datang menghampiri tapi cinta bukan seperti itu, menerima siapa saja yang mengetuk hati. Bagiku sangat tidak mudah untuk berpaling darimu.
(7)
Lalu, apa yang aku tuliskan hanyalah bagian dari apa yang ingin kutulis. Tak ada terbersit niatan untuk sesuatu hal yang lain. Sebab aku tahu, aku sudah lelah menyimpan harapan. Terlalu banyak kehilangan-kehilangan dan mungkin aku tak sanggup lagi kehilangan.
(8)
Aku hanya punya ketulusan dan hati sedang hati ini telah lama beku. Tak lagi menyala dan menggelora. Entah harus bagaimana aku hadirkan percikannya. Sebab aku tahu seharusnya tak ada tempat lagi untuk itu.
(9)
Kita tidak pernah tahu ke mana arus kehidupan membawa kita. Dan di perjalanan yang panjang itu kita sering bertemu dengan orang-orang yang mungkin hanya sekadar lewat atau orang-orang yang akan berarti dan meninggalkan kenangan.
(10)
Ini sudah dini hari. Ada banyak kisah yang kutemui di sini. Ada begitu banyak pengorbanan yang mesti ditempuh untuk suatu harapan. Ya, kita hanya menjalani. Pahit ataupun manis. Namun, percayalah bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu berpasangan.
(11)
Kekasihku pemilik alam semesta. Kadang aku menangisi jalan yang kaupilihkan untukku. Kadang aku mensyukuri aku masih bertahan d jalan ini. Kadang aku kosong dan hampa. Kadang aku hancur dan patah. Namun, aku tahu itu yang terbaik buatku.
(12)
Berjibaku dengan kesibukan. Walau badan ini terus mengaduh. Sedang pagi sudah mulai lenyap berganti siang yang garang. Kau yang jauh dari jangkauan. Entah siapa. Sebab aku tidak tahu harus ke mana melabuhkan rindu ini. Apakah kau juga sedang rindu?
(13)
Terpaksa mengalah sebab badan sudah minta ditidurkan. Ah, saat seperti ini betapa rindu kasih sayang. Engkau yang tersimpan dalam ingatan tak pernah lagi memberi kabar. Bahkan ketika itu kaubiarkan aku menanti. Hingga akhirnya engkau pergi. Sedang dia yang dekat tapi terasa ada sekat. Entah, haruskah kulalui sakit ini sendiri lagi? Sedang sekarang aku mulai merasa melayang terbang, dan begitu ringan. Atau mungkin ini sudah waktuku?
Langganan:
Postingan (Atom)