Senin, 19 November 2012

Puisi Kolaborasi yang kupunguti


PUISI MBELING : Bukan Sekedar Label, Tapi Kredo !

SALATIGA, RIMANEWS -- PUISI MBELING bukan sebuah label dari sebuah karya, tapi adalah kredo dan puisi dibawah ini adalah puisi-puisi yang diniatkan menjadi 'Puisi Mbeling' oleh kawan-kawan, saya tak tahu persis apakah sudah mencapai sasaran dari segi kebahasaan maupun estetika, tapi paling tidak sudah menjawab rasa penasaran kawan-kawan pada Puisi Mbeling, Emha sebagai " Kyai " tak mengaku mbeling pengakuan atau label itu didapat dari masyarakat dari 'Kredo" dia sebagai Manusia. ( W Kusumo Amboro )
DIK MUDIK LIK BALIK
=SUPARDI PURWOREJO, TAUFIQ EL HIDA, SITI KHODIJAH NASUTION, FEVI MACHURIYATI, AYANO ROSIE, JOSEPH HARSAWIJAYA, NINA KARMILA, MENNING ALAMSYAH, CHUPPY AFIANI, DEDET SETIADI, DEWI KELANA, NENY ISHARYANTI, MAWAR JINGGA RINDUKAN DAMAI, KANG RIBOET GONDRONG, DAN SATRIA MEMBINGKAI SEMESTA=
dik
mu
dikmu
dikmudik dik
lik
ba
likba
likbalik lik
dik mudikmudik
lik balikba lik
dik jadi mu
ba jadi lik
mu ketemu dik
jangan bilangbilang
lik bertemu ba
ambil jalan alternatif
biar cepat sampai rumahmu dik
pilih jalan alternatif
biar lekas sampai tujuan
aku kembali ke kampungku
menemui engkau mimpiku
seberkas wajahmu selalu di hatiku
jejak yang sumringah
senyum emak telah terbayang
aku semakin bergegas
pinjami pintu Doraemon
tak perlu menunggu lebaran
pulang ke rahim bunda
serindu meninggalkan kost
anyir
amis
pesing
kapal pecah
tikus kucing
pesta pora
akhirnya aku berangkat mudik juga
demi menghormati tradisi tahunan ini
kusekolahkan sepeda motor bututku sementara
mending tujuh ratus lima puluh ribu ditangan
biar genap dua juta bekalku
kulego juga satu-satunya jas yang ada
sekarang aku merasa gagah
dengan dua juta rupiah di tangan kubusungkan dad
pulang kampung dengan seribu tanya
bagaimana nebus sepeda motor untuk kerja
dan menjawab pertanyaan teman, di mana jas yang kau pinjam dulu?
hati cerah sumringah
bonus gaji satu bulan di saku kanan thr dari istri bos di saku kiri
secepat kilat ditukar dengan
selusin sirup di tangan kanan
enam toples kue di tangan kiri
tiket bis sudah di genggaman
oleh-oleh buat emak, bapak dan keponakan sudah diperoleh
selusin tahun sudah berlalu
kala kududuk di bangku baru
yang tercipta di bus biru
tanpa senderan, apalagi AC dan Toilet
mudik asik
bawa hp baru sambil bergaya nyentrik
meski bukan bis kelas satu
tapi ini pasti seru
kupilih jalan lingkar timur
agar tak macet untuk menempuh jalan pulang
aku pulang sekadar pulang
tak membawa apa pun yang bisa kupamerkan
aku tak punya apa-apa
pulsa amalku pun pas-pasan untuk mengirim pesan
meski belum masa tenggang!
macet meliuk raya ular biludak
panas kipas tak mampu usik gerah ganas
segala angkutan kalah lawan sengatan siang
rasa tak tertahan di di bawa pusar
tak temukan juga tempat tuk luapan siksa
cepatlah
sungguh tak tertahankan lagi
atau biar kutumpahkan saja di bahu jalan
peduli amat ketika hasrat tak bisa leram
gelas akua adalah jalan keluar
jauh-jauh meregang waktu dan jarak
selama ada akua dan nasi bungkus
tampaknya tak penat pelak
mengukur mengular jalan raya
demi pelukan dan ciuman
para sanak
berdesak pun tak dirasa tak enak
sebab setahun terlalu lama
memupus rindu yang tak terelak
tueeett...tueeeett
suara klakson saling menyambar dipekatnya malam
hening sunyi mengayuh sepi dikeheningan
hanya dengkur halus mengiringi perjalanan
cuiiittt...jeritan rem membuyarkan impian
Alhamdulillah...
kami terselamatkan dari cengkeraman setan jalanan
sambil menyeruput udara panas
debu saling akur menjabat
menahan laju kendaraan
macet total!
seorang kernet sambil marah-marah
menyerapahi kemacetan
ah, mudik di hari kemenangan yang fitri
kata ahli itu menumbuhkan ekonomi nasional
tapi ada pengamat yang bilang itu bikin inflasi naik
bah! bodo lah .. aku tak paham .. itu kajian tingkat tinggi
ah, mungkin puasa sudah usai
pikirku, jadi apakah ini yang dimaksud
kembali pada fitrah sebagai seorang manusia?
ah, lebaran, mudik
dan segudang perjalanan yang melelahkan
tiba-tiba terbersit
sesudah mudik, bagaimana hidup sebulan ke depan
ah, tak usah fikirkan
ada kas bon dan warung hutangan
nikmati saja kemacetan ini
bercampur polusi tak henti
uang habis itu masalah nanti.
-Kumandang Sastra, 25-26 Agustus 2012-
=============================================
PARA PENYAIR YANG TERLIBAT: (dalam urutan abjad)
*) AYANO ROSIE Lahir di Cakke-Enrekang, Sulsel, pada tanggal 22 desember. Mulai menulis puisi sejak SMA tapi hanya sampai pada buku harian, lalu diterbitkan di Facebook sejak 2010. Pernah meluncurkan antologi bersama " Indonesia Berkaca" tahun 2011 dan satu karyanya diterbitkan di berita mingguan Singapura tertanggal 6 Mei 2012
*) CHUPPY AFIANI Bernama asli Peppy Afiani, lahir di Jakarta 27 Juni. Lulusan YAI jurusan Ekonomi Managemen dan menulis pusi sejak SMP lewat majalah dinding. Sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang bermukim di Bekasi sambil menulis puisi.
*) DEDET SETIADI Lahir di Magelang 12 Juli 1963. Mulai aktif menulis tahun 1982, berupa puisi, cerpen dan juga esai. Tulisan-tulisannya, pada tahun 1980-2000 banyak dipublikasikan di berbagai media massa seperti: Suara Pembaruan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Berita Buana, Bali Post, Mutiara, Bernas, Kedaulatan Rakyat dan lain sebagainya. Tahun 1987 di undang dalam temu penyair Indonesia ’87 di TIM Jakarta. Tahun 1990, salah satu puisinya terpilih sebagai salah satu puisi terbaik versi Sanggar Minum Kopi, Bali. Antologi yang memuat karya-karyanya, Puisi Indonesia 87 (DKJ), Konstruksi Roh (UNS 1984, Solo), Vibrasi Tiga Penyair (Tiwikrama, 1996), Jentera Terkasa ( Forum Sastra Surakarta – TBJT, 1998), Rekonstruksi Jejak (TBJT, 2011), Equator (Yayasan Cempaka Kencana, Yogyakarta, 2011) dan lain sebagainya. Buku kumpulan puisi terbarunya adalah "Gembok Sang Kala" (Forum Sastra Surakarta, 2012). Bisa dihubungi di no telp 081328605589 dan email dedetsetiadi63@yahoo.co.id
*) DEWI KELANA Pemilik nama K Pudji Peristiwati ini lahir 30 Juni 1963. Lulusan UNDIP Semarang dengan status ibu rumah tangga. Suka menulis puisi sejak SMP, puisinya pernah di muat di majalah remaja th 1977 (lupa judul dan nama pena yg dipakai). Lama vakum dan aktif kembali sejak awal 2000an di Yahoo answer ( 1 th), namun tak pernah menyimpan filenya. Kembali aktif di facebook, hingga sekarang.
*) FEVI MACHURIYATI Lahir di Sidoarjo, 9 Februari 1972 dan berkarya di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo. Pengalaman menulis di majalah instansi ” Medivo ” dan cybernet di Facebook.
*) JOSEPH HARSAWIJAYA, seorang guru SMP di Simpang Dua, Kabupaten Ketapang-Kalimantan Barat. Gemar menulis puisi sejak tiga tahun yang lalu, sebelumnya hanya kadang-kadang saja. Pernah tinggal di Kudus-Jepara, Pati-Juwana, Semarang, Salatiga, Solo, Yogyakarta, Samarinda dan terakhir Jakarta. Tahun 2005 hingga sekarang tinggal di Simpang Dua. Lima tahun lagi rencana pulang ke Magelang, kota kelahirannya. Kegelisahan seorang guru di tempat terpencil, melihat kenyataan yang ada di Bumi Pertiwi. Dia ungkapkan perasaannya itu dalam bait-bait puisi yang sangat menggugah nurani, tentu saja bagi yang masih merasa memiliki nurani di dalam kehidupannya.
*) KANG RIBOET GONDRONG Pemilik nama asli Ribut Achwandi, adalah juga seorang kolumnis, penulis naskah drama dan juga pegiat dan praktisi seni sastra di Pekalongan. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah antologi, saat ini menjadi dosen di UNIKAL lulusan Sastra Indonesia UNNES sedang menempuh pendidikan Magister Sastra UNDIP.
*) MAWAR JINGGA RINDUKAN DAMAI Pemilik nama asli Idayani Sulistiyani ini lahir di Semarang, Jawa Tengah, 22 Januari. Mulai menulis sejak duduk di bangku SMP. Mantan anggota Teater Kuncup - Semarang, asuhan Djawahir Muhammad ini, kini tinggal di wilayah Tangerang Selatan. Serius menulis baru tiga tahun belakangan ini. Beberapa puisinya diterbitkan secara keroyokan bersama anggota Komunitas Tangerang Serumpun dalam Antologi KADO SANG TERDAKWA.
*) MENNING ALAMSYAH Terlahir di Simalungun tanggal 18 Februari 1982. Ibu dari dua orang anak yang sedang beranjak menjadi penulis. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama.
*) NENY ISHARYANTI Penulis ini menilai dirinya sebagai perempuan dengan berbagai peran: ibu dua anak, pengajar di sebuah universitas, mahasiswa pasca sarjana, peneliti pembelajaran bahasa dengan menggunakan teknologi, penulis puisi dan blog, pembaca novel sejarah, penyanyi jazz, dan penikmat permainan komputer. Berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Antologi yang sudah diterbitkannya ialah : Sajak Rindu di Negeri Itu (2012) dan puisi-puisinya terangkum di blog pribadinyahttp://nenyizm.wordpress.com/
*) NINA KARMILA Terlahir di Medan tanggal 1 Januari 1971. Ibu dari tiga anak laki-laki ini bekerja sebagai internist di RSUD Rantau Prapat, Sumatera Utara.
*) SATRIA MEMBINGKAI SEMESTA Nama aslinya adalah Satria Soetan Parmato, lahir di Padang - Sumatera Barat tahun 1970. Profesinya adalah pengamat ekonomi, sosiologi, serta teknologi informasi. Saat ini adalah CEO sebuah lembaga riset ekonomi di Jakarta, advisor pada berbagai korporasi, BUMN, dan lembaga pemerintahan di Indonesia, di samping sebagai dosen pada program pascasarjana Universitas Indonesia. Sangat menyukai puisi dan menulis puisi sejak SMA, walau hanya sebatas penyuka atau hobbi. Saat ini memiliki minat terhadap aliran post-modernis. Sekarang tinggal di perbatasan Bogor dan Jakarta.
*) SITI KHODIJAH NASUTION. Terlahir sebagai Siti Khadijah Nasution, tapi banyak yang panggil Dije. Numpang lahir di Padang Sidempuan 5 April. Sangat menyukai puisi, karena memiliki kejelimetan tersendiri. Sekarang tinggal di Lenteng Agung, itu loh yang dilewati Obama presiden Amrik waktu ke Indonesia.
*) SUPARDI PURWOREJO Bernama asli Supardi AR. Dilahirkan di Purworejo pada tanggal 02 Mei 1969 dan sekarang bermukim di Pangenjurutengah, Kec/Kab Purworejo. Bekerja sebagai guru. Pengalaman bersastranya antara lain tergabung dalam KOPISISA (Kelompok Peminat Seni Sastra) Purworejo dan beberapa karya terhimpun dalam antologi puisi terbitan Riak Bogowonto, Gelembung Bening, Syair-syair 15 , Kaki Langit Kesumba dan Resonansi (diterbitkan Dewan Kesenian Purworejo,2010).
*) TAUFIK EL HIDA Bernama asli Taufik Hidayat, lahir di Tasikmalaya tanggal 06 januari 1986. Aktif menulis sejak tahun 2001. Anggota SST (sanggar Sastra Tasik) dan saat ini aktif menulis di Kompasiana. Tulisannya pernah dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia (di Hongkong).
=============================================
TENTANG KUMANDANG SASTRA
*) Kumandang Sastra (atau disingkat KuSas) didirikan di RRI Semarang oleh Victor Roesdianto atau Kak Roes, panggilan akrabnya, dan melakukan siaran perdana pada tanggal 29 Maret 1967. Sejak tahun 2005, KuSas dikemas dengan format yang berbeda yaitu lebih menekankan menjaring para penulis pemula dengan tujuan agar mereka berani menulis apapun yang mereka ingin tulis (khususnya puisi) tanpa ada rasa ketakutan untuk salah. Sejak munculnya Facebook, anggota KuSas semakin bertambah dan meluas dengan dibentuknya grup yang memungkinkan anggota grup untuk mempublikasikan puisinya tidak hanya melalui ajang pembacaan puisi di radio tetapi juga melalui dinding grup di Facebook, dan saat ini Diketuai dan Di asuh oleh DIDIEK SOEPARDI MS. (Wrh/RIMA)

Puisiku yang dimuat di Blog dan Media OL

Ingin menyimpan puisi-puisi saya yang tercecer, karenanya saya cantumkan link-link yang memuat puisi kolaborasi saya :

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=11&cad=rja&ved=0CBwQFjAAOAo&url=http%3A%2F%2Fm.rimanews.com%2Fread%2F20120826%2F73428%2Fpuisi-mbeling-bukan-sekedar-label-tapi-kredo&ei=lQOrUKPrKoXXrQflk4CQAQ&usg=AFQjCNGzX-F2DNLGlhKf7X-eDlg493Kk9g&sig2=rxO8gd7bkLZMRtlCckcIAA


http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=14&cad=rja&ved=0CDoQFjADOAo&url=http%3A%2F%2Fsemilirr.wordpress.com%2Ftag%2Fkusas%2F&ei=lQOrUKPrKoXXrQflk4CQAQ&usg=AFQjCNFCO7NEcmZuyk3Z3aw4-Z6FKI8NPA&sig2=T-76ZtzwIO5Ns_4UITfP0A

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&ved=0CGUQFjAI&url=http%3A%2F%2Fnektarity.blogspot.com%2F2012%2F11%2F2dua-puisi-tentang-indonesia.html&ei=zwSrUKSvI4GHrAeQuYDgCw&usg=AFQjCNGTPGh61A7RzTwALY3Gdv4OvmNr6g&sig2=pMFKA175eJXdL0AUcd4fPw

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=15&cad=rja&ved=0CD0QFjAEOAo&url=http%3A%2F%2Fm.rimanews.com%2Fread%2F20121116%2F81894%2Frindu-adalah-percik-inspirasi&ei=QAWrULXeLcOrrAf9j4CoAQ&usg=AFQjCNGMvpmu-v7UxR98EH9OzpAsEwR7ZQ&sig2=VtIIMUYWl5SPgDhaqsOB2A

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=16&cad=rja&ved=0CEUQFjAFOAo&url=http%3A%2F%2Fm.rimanews.com%2Fread%2F20121103%2F80521%2Fempat-perempuan-penyair-menguak-takdir&ei=QAWrULXeLcOrrAf9j4CoAQ&usg=AFQjCNE_9v9vE6BIs3kbE25G2Z5psqoMbQ&sig2=v5nMNsYmpEDMEKj0oKPrPg

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=109&cad=rja&ved=0CF8QFjAIOGQ&url=http%3A%2F%2Fpuisipenyair5negara.wordpress.com%2F2012%2F05%2F26%2Fmening-alamsyah-jawa-barat-indonesia-berhenti%2F&ei=fgerUO-UOIP5rQeK0YDwCQ&usg=AFQjCNGY0MaFbzAbRARy8Wy_oxhK-AnOwA&sig2=kAMymDL5DpZq2JiGTcvoUA

RINDUKU PERGI BERSAMA HIDUPKU

Telah dimuat di
http://www.rimanews.com/read/20121119/82164/rindu-pergi-bersama-hidupku-cerpen-mening-alamsyah
http://radarseni.com/2013/03/16/rinduku-pergi-bersama-hidupku-2/
Dingin menyergap tubuhku. Cuaca mendung dan ruangan ber-Ac ini membuatku menggigil. Aku terpuruk di sudut ruangan bisu yang beku. Hatiku pun mulai beku saat kau hadir dalam relung-relung ingatan. Kau, laki-laki yang kukenal dari jejaring sosial. Laki-laki yang belum pernah kutatap matanya secara nyata. Kau seperti hantu yang mengganggu hari-hariku. Begitu banyak kenangan yang tak mungkin terlupa. Kau laki-laki bermata teduh dengan tubuh tinggi semampai sungguh atletis. Senyummu yang mengembang terlihat begitu manis. Baju kaos hitam dan topi itu selalu lekat dalam anganku. Gambaran yang bisa kusimpulkan dari foto-fotomu di dunia maya. Kau yang dulu selalu hadir di setiap pagiku. Menyapaku di Yahoo Mesengger walau kadang tak kuacuhkan. Kau temani aku menulis kekesalan hatiku sepanjang hari. Kau sabar membaca kata demi kata berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun sampai datang hari itu. Kau mulai mempertanyakan rasa dalam hatiku.
“Kamu sebenarnya menganggap aku apa?”
“Mas, kok nanya begitu?”
“Ya, aku hanya ingin tahu.”
Aku tak langsung menjawab. “Hmm,” gumamku.
“Kok hmm?”
“Ya, karena aku sudah pernah sampaikan ke Mas. Mas itu orang terpenting dalam hidupku. Penyejuk hatiku. Mas selalu bisa membuat aku bahagia.”
“Kamu mencintai aku tidak?”
“Maksudnya cinta ini cinta yang seperti apa?”
“Ya, cinta seperti seorang wanita yang mencintai laki-laki.”
Cinta, kata ini sungguh aku tak tahu artinya. Apakah termasuk cinta bila aku merasa rindu? Merasa ingin selalu berbincang dengannya. Apakah juga bisa disebut cinta bila aku bahagia karenanya.
“Mas aku anggap seperti kebutuhan batinku.”
“Kok begitu?”
“Ya, karena aku tak tahu apa artinya cinta itu.”
“Aneh.”
“Ya, aku memang aneh.”
“Aneh, kamu itu sudah menikah. Masa’ gak tahu artinya cinta itu apa?”
“Ya, aku memang sudah menikah Mas, tapi aku tak tahu apakah aku mencintai suamiku atau tidak.”
“Loh, kenapa kamu memutuskan menikah dengannya kalau tak mencintainya?”

Aku terdiam tak segera mengetik huruf demi huruf untuk membalas pesannya, “Aku menikahinya karena dia yang bisa menerimaku apa adanya. Dia rela menikahiku yang sudah tak perawan.”
“Ya, aku sudah tahu kalau soal itu.”
“Lalu apalagi Mas? Bukankah sudah kujelaskan aku tak mengenal cinta. Hidupku bukan untuk cinta Mas. Aku tak pantas merasakan cinta.”
“Bagaimana kalau aku mencintaimu, apakah kau percaya?”
“Mas mencintaiku?”
“Ya, dari dulu aku mencintaimu.”
“Aku memang tak percaya. Mas sudah memiliki istri yang begitu Mas cintai.”
“Memang, tapi aku akan segera bercerai dari isteriku.”
“Aku sungguh bahagia Mas mencintaiku, tapi kok aku tetap gak percaya ya? Kenapa Mas harus bercerai? Apakah karena alasan anak?”
“Bukan. Kami sudah lama tidak cocok. Banyak masalah yang timbul. Sudah lama kami coba pertahankan, tapi tetap tak menemukan titik temu.”
Aku seperti kehilangan kata-kata.
“Maukah kau menikah denganku setelah bercerai dari istriku?”
“Mas, aku ...”
“Kamu menolakku ya?”
“Maaf Mas. Tidak mungkin aku bercerai dari suamiku. Keluargaku berhutang banyak padanya. Dia yang memberi kebahagiaan untuk keenam adik-adikku. Aku rela berkorban demi adik dan orang tuaku walau aku tak mencintainya.”
“Ya sudah. Aku tak memaksamu.”
Kalimat itu kalimat terakhir dari perbincanganku dengannya. Setelahnya dia sama sekali tak pernah menyapaku lagi. Dia sudah menghapusku dari daftar pertemanannya. Dia benar-benar menjauh. Aku memang tak bahagia menikah dengan suamiku. Aku menikah karena hartanya. Sudah berkali aku terluka karena cinta. Kesucianku yang terenggut paksalah awal mula aku membenci laki-laki. Aku yang cantik dengan hidung mancung, tubuh semampai, dan kulit putih bersih rela menikahi laki-laki paruh baya yang bertubuh tambuh demi uangnya untuk membayar hutang-hutang orang tuaku. Pernikahanku yang sudah lebih tiga tahun ini belum juga membuatku mengandung. Kebahagiaan seperti apa yang kudapat kecuali hartanya. Hidup bergelimang harta tetap tak membuatku bahagia, pagi ini aku benar-benar merindukan Mas Restu.
“Mas, mengapa kau tega meninggalkanku begini. Mengapa kau tak mau hanya menjadi temanku?” Tanyaku dalam hati. Bulir bening mulai menetes di pipiku yang putih bersih. Kubiarkan benda hangat itu membasahi wajahku, mengalir lembut menuju bibirku yang merah merona. Nyatanya aku merindukannya, itu sungguh menyakitkan. Bukankah aku seharusnya membenci laki-laki? kalimat itu tak berlaku untuk Mas Restu. “Mengapa tak kau biarkan aku tahu keadaanmu, hanya tahu. Itu cukup buatku,” batinku perih.
***

Hari-hariku berlalu tanpa Mas Restu. Dia meninggalkan luka yang begitu dalam di hatiku. Aku hanya berusaha menjalani kehidupanku secara normal. Menjadi seorang istri yang setia. Segayung air dingin mengguyur tubuhku yang semampai membasahi setiap lekuk-lekuknya. Kubuka tutup sampo dan mengeluarkan isinya aku mulai meremas-remas rambutku. Membersihkan mahkotaku yang indah. Aku tercekat, rambutku seperti tercerabut. Tanganku penuh dengan rambut yang tergenggam. Ini kali kedua setelah tadi pagi kudapati rambutku terlepas dan bergumul mesra di atas bantal. “Ya Tuhan ada apa ini?” kepalaku terasa berat. Semuanya gelap. Senyap tak ada suara. “Mas Restu tunggu ... jangan tinggalkan aku Mas, jangan ... aku membutuhkanmu!” teriakku di antara pekat yang begitu menyiksa. Tak ada sahutan. Aku menggigil. Badanku seperti berada di dalam frezer. Dingin membeku.
“Bu, ibu sudah sadar?” tanya Mbok Yem, pembantuku.
“Mbok, saya kenapa?” tanyaku heran. Kini tubuhku terasa hangat dengan selimut tebal memeluk erat.
“Tadi ibu pingsan di kamar mandi. Saya lama menunggu kok gak ada suara, lalu saya memanggil ibu-ibu di komplek sini Bu.” Mbok Yem begitu lekat menatapku.
“Mbok Yem, tadi saya itu ...” Aku tak meneruskan, anganku yang melambung membayangkan betapa malunya tadi aku pingsan dalam keadaan telanjang.
“Perempuan semua kok, Bu. Tadi saya panik. Menelepon bapak tidak diangkat-angkat.”
“Ya, gak papa Mbok. Terima kasih ya. Nanti kalau bapak tanya bilang saja salah pencet ya, jangan ceritakan keadaan saya tadi.”
“Tapi, Bu.”
“Tolong ya Mbok Yem. Bapak sedang sibuk dan mungkin tidak akan pulang dalam dua minggu ini.”
“Iya Bu,” jawabnya tanpa membantah lagi.
Aku mulai merasa aneh. Tubuhku bertambah kurus. Berkali-kali mimisan. Aku pun begitu cepat merasa lelah padahal tak melakukan kegiatan apa pun kecuali membaca dan berselancar di dunia maya. Suamiku yang jarang di rumah membuatku merasa sepi. Mbok Yemlah yang selalu setia menemaniku.
“Dok, sebenarnya saya sakit apa ya?”
“Dari gejala yang ibu sebutkan, ibu menderita leukimia, tapi hasil yang pasti dapat diketahui setelah cek darah.”
“Apa Dok? Leukimia?”
“Iya benar Bu. Dua hari lagi ibu dapat mengambil hasil tesnya.”

Kutinggalkan rumah sakit. Menyusuri jalanan dengan perasaan gundah. “Ya Tuhan, ijinkanlah aku bertemu Mas Restu walau satu kali saja. Aku tahu aku salah. Aku berdosa memikirkan laki-laki lain sedang aku memiliki suami. Ijinkanlah sekali saja bertemu sebelum ajal menjemputku,” rintihku pilu dalam hati. Kulangkahlan kakiku menyeberangi jalanan yang begitu ramai. Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Aku merasa sebuah benda menabrakku. Aku terpental. Hening, tak ada satu suara pun. Setelahnya aku seperti terbang ke alam yang tak pernah kulihat selama ini.

***
Cirebon, 19 November 2012

Minggu, 18 November 2012

DO'A

DO'A
: Bengkel Puisi Swadaya Mandiri

kata terangkai dalam indah jejak sajak
terbalut asah asih asuh yang tak pernah terpetak
pada lautan biru puisi
'tuk arungi gelombang imaji

aku terhanyut arus tifografi
sepanjang essay Kajitow El-kayeni 
tersangkut pohon rindang diksi
di akar-akar lirih hati Kanjeng Senopati
terselamatkan kisah madrim setyowati
di perahu pengolah tradisi Puja Sutrisna 
pengantar budaya jawa
sehangat selimut Windu Mandela

Mas, Om, Pak, Abah 
Dimas Arika Mihardja
panggilan tuk sang pendiri
yang tlah ikhlas berbagi
tanggalkan baju sakit hati
dari caci maki dan nafsu duniawi
seteguh jalan Ilahi Robbi
semanis persahabatan Chuppy Afiani
kuucap terimakasih

ah. luka si mawar putih
kepada pemilik nurani
sisakan nyeriku di sisi hati
antara lukisan Dedet Setiadi
dan Nabila Dewi Gayatri
bermakna pesan Dewi kelana
bercorak bunga Yusti Aprilina
bersenyum bunda Yesiska susastra
berpetuah Moh Syahrier Daeng
sepedas lombok Sofyan Adrimen 

aih. begawan penabur kasih
pemberi kado istimewa di hari jadi
tuk S. Riyanto Hamid sang peneliti
tertusuk mawar Usup supriyadi
di taman melati berdarah
Sus Setyowati Hardjono
sebentuk Palung Jiwa Sang Pujangga
menegas palang pintu yang terdobrak Pilo
tersembul wajah Nimas Ayu
berpeluh rindu dalam kalbu
selembut angin merintih
ning Fevi Machuriyati

sudahlah!
tak cukup kata tuk semua
maaf bersulam motif do'a
warga bahagia tanpa celah
selamanya tetap jaya
senikmat alam sastra
dariku sirindu cahaya
semoga!

Cirebon, 20 Mei 2012



AKU TETAP DI SINI


aku hanyalah sekumpulan tinta
yang menoreh di hitamnya hatimu
melukiskan berjuta warna, membuatmu tak suka
mebuatmu meradang marah, menyeringai
mencengkeramku dengan cakar-cakar tajammu
meninggalkan luka perih

aku hanyalah setitik warna putih
di goresanmu yang warna-warni
mengganggu pandangan. merusak imaji
menghalangi kebebasanmu
lalu kauhapus aku

aku hanyalah ujung pena tak bermakna bagimu
yang tak pernah kau tatap apalagi kau baca
aku tak goyah
terus kuuntai kata dan tingkah tuk melawanmu
terus kutuliskan kisah kesejatian di antara kisah kebohonganmu
walau hanya sendiri, sedang kau berteman jejeran bintang-bintang

kau tetap saja menjauh, terbang kepakkan sayapmu
tinggalkan bulu-bulu mengganggu pernapasanku
namun aku tetap di sini
berharap kau kembali menemukan jalan
jalan keabadian menuju cahaya-Nya


Cirebon,  30  Mei  2012

Minggu, 11 November 2012

MAAF! AKU TELAH MENGATAKANNYA


Cerpenku yang dimuat di Radar Seni edisi Minggu tanggal 11 November 2012
Malam meremang berteman kerlip bintang dan rembulan yang malu-malu. Benda langit itu mengintip dari balik gumpalan awan. Mendung, semendung hati Rani, gadis manis berkerudung putih. Bulir bening mulai menetes di pipinya yang sayu. Matanya cekung karena tiga malam terakhir, dia sama sekali tak dapat memejamkan mata.  Di angkutan umum warna biru yang kini akan mengantarkannya pulang ke rumah setelah pulang dari Ujian Tengah Semester, hatinya terasa sakit. Suasana di dalam angkot yang sepi dan hanya seorang diri membuatnya membiarkan air mata membanjiri wajahnya di sepanjang perjalanan. Dia ingat perbincangannya dengan teman-teman sekelasnya sebelum ujian tengah semester dimulai.

“Hai, kamu! Sok pintar.”
“Sombong banget, gak mau ikutan,” ucap Hendro.
“Maaf, teman-teman. Aku gak bisa ikut kalian, aku ingin mencoba kemampuanku sendiri, aku tidak mau mencontek seperti itu, apakah kalian juga tidak ingin mencoba terlebih dulu? Kita baru semester satu, ini UTS yang pertama,” ucapnya menolak tawaran teman-temannya yang sudah mendapatkan soal ujian sebelum ujian dilaksanakan dan berharap ada yang setuju dengan pendapatnya.
“Apa sich alasan kamu? aneh ada yang mudah kok memilih yang sulit.”
“Aku ingin mencoba kemampuanku dulu. Ini kan baru UTS pertama, masa’ sudah begitu.”
“Ya, sudah. Sekarang begini, kamu harus janji sama kami, kamu tidak akan mengatakan hal ini ke siapa pun.”
Rani terdiam sejenak. Lalu, “Ya, aku janji.”

Janji itu menyakitkan hati Rani. Tiga hari selama UTS, mereka teman-temannya dengan nyaman tanpa perasaan bersalah hanya memindahkan jawaban yang sudah mereka kerjakan secara berkelompok. Hari ini puncak rasa sakit itu, saat teman terdekatnya, Hafsah juga ikut dengan mereka semua. Tinggal Rani sendiri yang jujur menjawab tanpa tahu soal sebelumnya. Bukan hanya itu karena Rani orang pertama yang mengumpulkan jawaban. Ada dua orang yang dengan sengaja menyindirnya. Baru saja soal selesai dibagikan oleh Dosen Pengawas, tiba-tiba suara Hasan menyengat telinga Rani.
“Ini Pak saya sudah selesai.”
“Ran, tuch Hasan meledek kamu,” ucap Joko.
Rani masih bisa bersikap netral, “Gak papa, biarkan saja. Kalau berbuat tidak baik kepada orang lain. Nanti juga ada yang membalas.”
“Iya, Ran. Gimana udah selesai?” ucap Sonny ketua kelas disertai suara teman-teman lainnya yang tertawa terbahak-bahak. Kali ini membuat Rani kesal. Kepalanya pusing karena dia tak bisa tidur beberapa hari ini ditambah soal ujian yang jelas tidak mudah. Rani dengan lemas mengerjakan soal-soal itu. Keadaannya yang lemas diperhatikan Dosen Pengawas yang juga Dosen pengajarnya.
“Ada apa? Kok lemes banget?”
“Iya Pak. Capek habis pulang kerja, langsung UTS,” jawabnya sedih.
“Ooh ...” Sang Dosen tersenyum dan meninggalkannya.

Rani yang selalu berprestasi di kelasnya semasa SMA tidak dapat melanjutkan kuliah seperti keinginannya. Pak Haryo, ayahnya meninggal saat dia masih kelas III SMA. Sementara ibunya yang hanya ibu rumah tangga biasa tidak mungkin membiayainya karena tidak mempunyai pekerjaan apa pun. Ibunya membuka warung kopi untuk biaya hidup mereka. Setamat SMA Rani memutuskan merantau. Kini dia dapat kuliah sore hari selepas bekerja di pagi harinya. Rani, tak pernah menyangka di Universitas tempatnya kuliah kini, dia menemukan hal seperti itu. Siapa sebenarnya mereka yang dengan rela memberikan soal kepada Mahasiswa.  Rani sedih. Dia sungguh tak ingin membohongi dirinya sendiri dengan ikut seperti mereka. Rani tak pernah memimpikan akan kuliah seperti itu.

Sikap berbedanya ini membuat teman sekelasnya menjauhinya. Bagi Rani itu tak masalah. Dia tetap akan menjadi dirinya sendiri. Namun, Rani merasa tersiksa dengan menutupi apa yang telah terjadi. “Bagaimana wajah pendidikan Indonesia? Bagaimana mutu pendidikan Indonesia bila seperti itu adanya?” gumamnya membatin. Setiap malam selama UTS berlangsung, Rani tetap belajar dan membaca diktat-diktat semampunya. Dalam pikirannya terlintas keinginannya untuk mengadukan hal itu ke Dosen atau Dekan. Rani harus melakukan demi ketenangan hatinya.

***
Rani menghapus air mata yang terus menetes. Hatinya masih gamang. Apakah yang harus dilakukannya? Mengingkari janji ke semua teman sekelasnya atau mengadukan hal itu ke pihak universitas. Rani tak mendapatkan satu pun jawaban, hatinya bertambah resah. Malam seakan bertambah kelam, matanya menyusuri jalan beraspal, rumah, dan  pohon yang berderet. Rani seperti berada di atas jembatan yang di bawahnya terlihat jurang yaang begitu dalam. Kadang Rani benci dengan perasaannya sendiri. Mengapa dia harus merasa bersalah untuk hal yang tak dilakukannya.

“Dek, turun di mana?” tanya sopir angkot mengagetkan Rani.
“Di terminal Pak.”
“Ooh.”
Hanya sebatas itu obrolan antara Rani dan Sopir Angkot.  Setelahnya Rani membisu. Rintik hujan mulai menetes membasahi tanah yang kering. Lama sudah tak turun hujan. Hujan itu suatu anugerah bagi mereka yang saat ini menantikan. Seperti Rani yang menanti jawaban dari konflik batinnya. Harum tanah basah menyeruak. Mengisi lekuk-lekuk hati Rani yang sedang perih.

Ditemani hujan, Rani sampai di kamar kosnya yang sepi. Malam ini, Rani akan memohon kepada Allah, setelah selesai dari masa menstruasi. Di sepertiga malam yang gigil. Rani mulai bermunajat. Di luar, gemuruh hujan mulai terdengar. Angin kencang menggoyangkan pohon-pohon perkasa. Namun tak mengurangi kekhusuan doa Rani.

***

Hari terakhir UTS. Sore ini Rani merasa lebih segar. Kini, dia yakin apa yang harus dilakukannya. Selepas UTS Mata Kuliah Bahasa Inggris, Rani menemui Pak Doni, Pembantu Dekan di bidang kemahasiswaan.

“Maaf, Pak. Saya ada perlu dengan Bapak.”
“Oh, boleh. Mari masuk.” Pak Doni  mengajaknya ke ruangan pribadi Pak Doni.”
“Ada apa Rani?”
“Saya sebenarnya memberanikan diri menemui Bapak.”
“Ya, ada apa?”
“Saya mohon maaf sebelumnya Pak. Saya ...”
“Ada apa Rani?”
“Saya ingin mencurahkan isi hati saya Pak, boleh?”
“Boleh Rani. Silakan.”
“Saya kan baru ya pak, kuliah di sini. Saya juga baru ikut UTS pertama di sini, tapi saya kaget Pak, kok teman-teman sudah mendapat soal ujian sebelum ujian. Apakah di sini hal itu dibolehkan? Mohon maaf Pak.”
“Ya tidak Rani. Tidak dibenarkan. Sebenarnya isu tentang hal itu sudah lama terdengar dan sudah sering dibahas di rapat. Namun ternyata sekarang muncul lagi. Kalau dulu Dosen Pengawas yang menemukan, kali ini justru Mahasiswanya sendiri yang melaporkan.”
“Iya, saya awalnya ragu, tapi saya tersiksa sendiri Pak. Saya sampai tidak bisa tidur. Saya hanya ingin menyampaikan ini kepada orang yang tepat. Kalau ke orang luar Universitas, saya justru malu. Bagaimana pun ini adalah kampus saya.”
Rani mengehala napas. Suaranya mulai parau karena menahan tangis.
“Sebenarnya saya sudah berjanji ke mereka untuk tidak mengatakan ini kepada siapa pun, pak.” Rani tak kuasa menahan lagi. Gundukan kristal di kedua sudut matanya mulai meleleh. “Saya, serba salah Pak. Saya hanya ingin berbuat sesuatu yang benar. Sejauh ini saya berusaha jujur.”
“Rani, tidak perlu merasa begitu. Biasa saja menghadapinya.”
“Iya, Pak. Saya sedikit lega setelah menceritakan ini ke Bapak. Apa pun tindak lanjutnya itu kewenangan Pihak Universitas. Saya hanya ingin mencurahkan apa yang saya rasa Pak bukan bermaksud menjelekkan teman-teman saya.”
“Ya, untuk menyelidikinya pasti membutuhkan bukti-bukti, tapi saya akan menyampaikan dalam rapat bahwa ada laporan dari Mahasiswa mengenai hal itu.”
“Terima kasih Pak. Saya melakukan ini karena saya cinta kampus ini dan pendidikan di Indonesia, kalau begitu saya permisi ya, Pak. Terima kasih, bapak bersedia menerima saya.” ucapnya sembari menghapus air matanya.
“Sama-sama Rani.”

Rani meninggalkan ruangan Pak Doni dengan perasaan lega. Dia masih harus mengikuti ujian satu mata kuliah lagi. Apa pun yang akan terjadi, Rani sudah siap menghadapi. Baginya, kejujuran lebih utama, dan keberanian itu akan hadir seiring kebenaran. “Teman-teman, maaf! Aku telah mengatakannya. Percayalah, ini demi kebaikan kalian juga,” ujarnya dalam hati.

TAMAT

Cirebon,  04 November 2012

Kamis, 18 Oktober 2012

RINDU

RINDU


senandung rindu mengetuk dinding hati
menjerit lengking
merobek pekat malam
penuhi ruang ilusi

kau sosok berupa bayang
akankah menjelma nyata
puaskan dahaga rindu

seperti malam menjemput rembulan
jemputlah aku dalam dekapmu

Cirebon, 5 Mei 2012