Kamis, 10 September 2015

UNTUKMU YANG TERSAYANG

Senja baru saja menghilang dan malam telah datang memenjarakan matahari. Namun, tahukah kamu, Sayang? Rasa rindu di hati ini tidak pernah terganti, tumbuh dan semakin tumbuh.

Malam ini rebahlah di sampingku, Sayang. Aku mengecup keningmu, mendekapmu erat dengan napas lembut. Kau membelai rambutku sampai terlelap. Setelahnya aku tak ingat apa-apa. Sampai kurasakan kecupan hangat di bibirku. Oh, itu bibirmu dan hangat napasmu. Aku bahagia sebahagia mentari menyambut pagi.


Lelaplah, Sayang. Tidurlah dalam rengkuhku. Sembari kulantunkan doa-doa keselamatanmu. Setelahnya aku mengecupmu penuh sayang.


Cirebon, 10 September 2015

Rabu, 09 September 2015

MENERIMA TAKDIRMU

Gigil masih kuasai
Sedang hati juga perih
Duh, gusti
Air mata tak lagi temani
Kadang lelah menapaki
Jalan yang kau pilih
Entah, haruskah aku pergi
Tapi engkau inginkan aku di sini
Lalu, bagaimana lagi
Selain menerima takdir ini


Cirebon, 9 September 2015

Selasa, 08 September 2015

KIDUNG UNTUKMU SAYANG

aku memelukmu lelaplah di dadaku Sayang aku belai rambutmu kunyanyikan kidung cinta kasih antara kau dan aku pejamkan matamu

Cirebon, 08 September 2015

Minggu, 06 September 2015

PASRAH

Ke mana hendak kuberlari
menuju muara gelisah hati
kecuali hanya kepada-Mu
yang begitu mencintai

Ah, cintamu tanpa syarat

hingga membuat aku sekarat
sampai ke sendi-sendi tubuhku
nyeri beku
jari-jariku belum kembali utuh

aku mengerti
ini wujud cinta kasih
akan kunikmati
sampai waktuku berhenti

Ranjang bisu,  06 September 2015

Senin, 17 Agustus 2015

UNGKAPAN

Bisa jadi engkau merasa takut untuk dekat dengan seseorang, ya, takut, sebab kau tak ingin menambah rumit keadaanmu. Lalu, saat begitu banyak sesak di dada kau akan mencari kertas, menulis lembar demi lembar, ya, berkali kau meyakinkan dirimu kalau Tuhan selalu bersamamu.

Mungkin benar, setelah kamu memilih ada begitu banyak pilihan yang lebih baik datang. Namun, apakah serta merta dapat mengubah apa yang telah diputuskan sedang hatimu terlanjur terkunci. Walaupun dulu pernah ada yang menetap tapi dia menyakitimu teramat sakit hingga kau tak mampu menghapus jejak itu dan membuang kunci hatimu ke dasar laut.

Lagi, kau hanya bisa menulis di sini. Mengurai kesedihanmu dalam lembar-lembar kertas.Tak ada yang bisa membantumu kecuali dirimu sendiri. Nikmatilah. Sebab hidupmu kau sendiri yang menentukan.

KALIAN DAN NOVEL-NOVEL KALIAN

Selamat pagi!

Ini hari yang rasanya ada yang beda. Di kantor begitu ramai, tapi aku masih saja merasa sepi. Entah kenapa. Ingin sekali menulis banyak hal sebenarnya, tapi begitu sulit memulainya. Ternyata benar menulis itu seperti pisau yang bila tak digunakan akan berkarat dan bila diasah akan tajam kembali.

Ya, belum menyelesaikan membaca novel hadiah dari seseorang yang kukenal di dunia maya. Seseorang yang begitu giat menulis. Aku mengenalnya di grup Axara Saung Emas. Grup menulis yang kami dirikan untuk belajar. Lalu, kami bertemu lagi di Kobimo (Kelas Online Bimbingan Menulis Novel). Sama-sama menjadi pengurus di Kobimo, dia satpam Kobimo yang tegas dan Pengasuh ruang curhat yang sabar meladeni banyak keluhan. Ah, masa yang indah saat itu sampai akhirnya saya memutuskan keluar karena kesehatan saya.

Saya ikut senang sebab banyak dari teman-teman Kobimo yang berhasil membuat novel dan lolos di ajang lomba atau pun lolos ke penerbit mayor. Sementara saya semakin lindap, bergumul dengan kenangan tentang mereka. Adapun Mas Redy Ugeng Kuswanto yang menjadi pemenang pertama lomba seberapa Indonesia kah dirimu? menghadiahkan novel perdananya itu sudah beberapa bulan yang lalu. Hanya saja ada yang tidak beres di kepala saya yang membuatnya sangat sakit bila baca terlalu banyak karena itulah hingga detik ini belum selesai membacanya, Maafkan saya Mas Redy.

Ada nama saya tertera di ucapan terima kasih. Ini kedua kalinya setelah novel karya Hengki Kumayandi, founder Kobimo, TELL YOUR FATHER I AM MOESLIM yang juga belum s
aya buatkan resensinya. Oh, itu juga karena agak sulit menyimpan di memori otak saya. Hahaha, mungkin saya sudah mulai lowbat.

Baiklah, saya hanya ingin mengabadikan novel mereka di sini  sementara foto penampakan novel itu dan saya saja ya sebelum membuat reviewnya
hehehe.




Minggu, 22 Februari 2015

KEJUTAN

Belakangan ini saya seperti mati gaya. Lama tak menulis membuat banyak ide berjejalan di kepala, tapi sulit menuliskannya. Jadi, pagi ini saya mau curhat saja, hehehe. Curhat juga salah satu bagian dari menulis kan? Baiklah ini curhat tentang kejutan-kejutan yang belakangan ini melingkupi hati saya.

Curhat yang pertama, ini tentang putri kecil saya yang waktu melahirkan dulu hampir bertaruh nyawa. Umurnya sudah 4 tahun sekarang. Bayi gendut yang lahir 4,3 Kg ini sudah menjadi putri kecil yang sangat cantik loh. Hahaha, itu kata saya sebagai ibunya, tapi saya yakin kalian juga akan setuju bila melihat fotonya di bawah ini. Hasil iseng saya mendandani dia di malam hari, Ini dia:


Tuh kan benar? lihat saja senyum manis dan matanya. Ah, dia benar-benar kebanggan saya deh. 

Curhat yang ke dua. Ini tentang kado ulang tahun yang diberikan Fe, sahabat saya, Novel khusus dewasa yang panas membara dan membuat imajinasi saya semakin liar. Hohoho. Tentu saya sangat senang memperoleh kejutan itu dari dia, Dia satu-satunya sahabat perempuan yang paling mengerti saya. Dua tahun berturut-turut dia selalu memberi kado yang mampu memengaruhi emosi saya. Menangis dan terharu ketika membaca "12 PASANG MATA" kado tahun kemarin dan bergolak membara ketika membaca "REFLECTED IN YOU" Sylvia Day. Oo. Dia berhasil mengaduk-aduk emosi saya. Muach buat Fera. Ini dia penampakan saya dan novel itu:




Lihatlah senyum manis saya di atas sama dengan putri saya ya? hehehe

Curhat ke tiga. Ini karena saya menemukan link blog di google yang menjadikan puisi saya sebagai pembuka tulisannya. Bahagia banget ya. Ini dia link nya:

 https://nurqolb.wordpress.com/2015/02/08/aku-tak-ingin-pindah-rumah/

Sementara segini dulu ya curhatan saya, akan dilanjut lagi kalau ada kejutan lainnya :D bye bye. 

Cirebon, 23 Februari 2015