Senin, 24 Februari 2014

KADO PUISI DARI SAHABAT MAYA

Ada air mata keharuan di ulang tahun saya yang ke-32. Di grup tempat saya menjadi koor dan admin, saya mendapat kejutan. Inilah puisi-puisi yang saya kumpulkan hadiah untuk saya:

Hengki Kumayandi Full

|Kak Menning Alamsyah, selamat ulang tahun! Sehat selalu, bahagia selalu dan sukses selalu. Aamiin____

Ibu adalah pelita
Laksana lampu-lampu jalanan yang menerangi pejalan menuju jalan pulang
Itulah Engkau

Sayup kudengar kisah perjalananmu
sepotong demi sepotong
Tawa
Canda
Dan tangis melebur menjadi satu

Namun tetaplah Engkau yang kuat
Mengasuh kami di sini
Melerai kegaduhan-kegaduhan yang terjadi

Tetaplah di sini
Selalu
Sampai nanti

Ibu ....____


Asri Fara Selamat Ulang Tahun Mbak Mening, 

Dewi Samudra

aku tahu, bulir bening di pipimu tak pernah habis 
aku tahu, lembut hatimu selalu teriris 
semua karna aku, dia dan mereka, 'anak-anak bengal'mu yang meng-ego-kan manja 
pun ... aku sangat tahu di senyum manismu, tertoreh luka: dalam, lara ... 
namun kau tetap anggun laksana dewi di samudra
dan Dewi Samudra itu adalah Kau 

Taipei 18214

Mbak Mening semoga kebaikan dan kebahagian selalu diberikan Tuhan padamu. Tetaplah tersenyum agar kami tak henti tertawa. 


Mel Ara Ikut meramaikan ahhh ...--------Teruntuk Bunda 

Diam bukan caramu hentikan luka
Melodrama hobimu singkapkan fakta
Itu kau lakukan untuk mengusir lara
Agar kita senantiasa tetap bersama

Tangan lembutmu selalu terbuka
Walau pelukan kadang tak hentikan duka
Tapi senyummu tenangkan prahara
Membuat kita selalu merapat bersama

Bunda ...
Jangan pernah renggangkan jarak kita
Tetaplah menjadi pelita
Dan hidupkan selalu kehangatan kobimo tercinta--------  
#huaaa, akhirnya bisa juga bikin puisi *poco-poco

Masda Maccha Tumangger Melody tentangmu

Saat aku melihat cakrawala, 
Begitulah kau hadir dalam hidupnya
Saat aku melihat karang yg membentang
Begitulah kuatmu menantang

Seperti mutiara yg berharga
Begitulah kau di mata mereka
Keindahanmu bagai bianglala
Di senja yang menentramkan lara

Ini bukan tentang alam
Ini melody tentangmu
Ini senandung malam
Penghantar mimpiku tentangmu

Lisma Laurel Ikut meramaikan juga ahhh ... 

Kau adalah ibuku, ibu dunia mayaku

Kesabaranmu, ketabahanmu, adalah segurat kecil yang kupelajari darimu

Andai aku terlahir dengan imajinasi emas
akan kulukiskan kesabaran itu lewat indah kanvasku
Bila aku tercipta seperti si ningtingale
akan kubuatkan dirimu seribu lagu terima kasih

Namun, aku bukanlah siapa-siapa
Aku hanya bisa ... merapalkan namamu dalam doa
"Tuhan, lingkupi hidupnya dengan pelangi."

Susanty Iry 
 Belum berapa lama aku mengenalmu mba
Belum juga aku kenal apa yang ada dalam keseharianmu
Belum pernah aku dapati yang tercela dari lisanmu
Kelak jika gelombang datang dan engkau dapati membentur hatimu dan membentuk luka,
tetaplah bersabarlah membimbing kami

Sri Poernawati Setiap kubuka pintu itu
Selalu senyum hangatmu menyapaku
Menning…entah apa makna namamu
Berkesan untuk sekian nama yang pernah ku tahu
Kadang kau buat ku tersanjung, dengan panggilanmu dipemberitahuan
Ayo lekas gabung kelas!!!
Tapi terkadang aku sedang sibuk dengan aktifitasku
Happy birthday kawan, semoga harimu terberkati
Terimakasih Guru Menning, terimaksih KOBIMO
Hariku terasa HIDUP kembali

Zahra 
aQ..datang lagi..tak lupa ku bawa bingkisan berwarna pink..didalamnya terdapat foto kita..cerita kita..tentang kita..dan sekeping kenangan yang masih berbentuk utuh..semoga tak luntur terhapus lupa dan waktu..Kuselipkan namamu Menning Alamsyah di tiap Do'a ku..karna hanya itu yang sampai pada mu# maaf ya klo jelek puisinya..hee..namanya juga usaha 

Ayip Ahsanudin Alif Bodoh Jika Kau Tak Mengenali Dia.

Bodoh!Kenapa kamu diam?Kau bisu ya?
Bahkan ... kau hanya bisa memalingkan muka.

Cepat tataplah, dia!
Lihat bajunya yang anggun, berkerudung putih, dengan warnanya cerah.
Kau tahu siapa, dia?
Hahahahaha, kau bodoh kalau tak kenal dia.

Dia adalah seseorang yang tulus memberikan cinta.
Seseorang yang tulus memberikan ilmu.
Seseorang yang tulis menyayangi kita. 
Seseorang yang tulus memberikan warna, ditiap pelajaran kelas di Kobimo.

Masih kah, kau katakan tak kenal dia?
Oh ... Tuhan.
Kenapa dia, tak butuh penghargaan.
Dia, hanya butuh persahabatan dan hadir di kelas agar senantiasa berseri.

Sungguh mulya, hatinya.
Melukis cinta dengan perasaannya.
Bahkan, memberikan ornamen bingkainya, dengan hati yang sedang rapuh.
Dan aku tak percaya, secepat itu bangkit demi Kobimo.

Puisipun sudah kehabisan makna.
Bahkan cerpen dan novelpun tak sanggup, mengubah ceritanya.
Hanya satu, yang ingin kukatakan padanya ...
selamat ulang tahun mbak Menning.
Sekali lagi ... bodoh! Kalau kau tak mengenalinya.


Faradina Shanti Doa | Hembus nafas memberi jeda untuk bermunajat | Untuk Bunda, yang hari ini mendapat beribu ucapan | Selamat ulang tahun, panjang umur, sehat selalu | Bila waktu bisa memberi satu keajaiban | Untuk menatap senyum, berpeluk dan berceloteh| Aku ingin kebersamaan selalu jadi pendar untuk kita dan para sahabat | Tulus waktu dan ilmu selalu jadi tempatmu berbagi | Selalu disini dan sampai nanti | Gubug, 18 Febuari 2014

Aris Rahman Yusuf 
Perempuan Hujan
By: A Rahman Yusuf

Kau adalah hujan...
Pemberi sejuk pada jiwa-jiwa gersang
Kau adalah tetesan...
Air jernih penghapus dahaga

Mengenalmu...
Kau ajarkan arti berkorban
Meski ada riak kesakitan yang kau tahan
Mengenalmu... 
Kau ajarkan aku temukan warna-warna keindahan

Untukmu perempuan hujan
Semoga airmu tetap membasahi 
Semoga jernihmu tetap abadi
Selamat hari jadi
Mojokerto, 18-02-2014

Tri Ratna Rachmawati untuk Mbak Menning Alamsyah 

DOA DAN RINDU UNTUKMU

hasrat hati hendak berlari
mengejar jejak jauh jarakmu
rasa raga hendak bertarung
melawan perkasa sang waktu

karena aku
ingin kembali menemuimu

agar dapat tanganmu kugenggam erat 
seraya kuucapkan sebaris kalimat : 
"Selalu ada doa dan rindu, untukmu... " 

* * * Bandung, 18 Februari 2014 

Selamat berhari jadi, Mbak Menning Tercapai segala cita-cita


Ris Wandi Ikut ngeramein ah ....

Bukan Puisi

Ah, aku tak pandai bermain diksi
Menata kata menjadi sebuah puisi
Sebagai ungkapan persembahan hati
Untukmu yang tengah menukas hari

Jelas ini bukan puisi yang bening
Apalagi yang membuat merinding
Sekadar doa untukmu, Mbak Menning
Yang terpatri dalam hati nan hening 

Kau t’lah lalui hari penuh warna
Dengan tegar hati kau hadapi dunia
Menebar kebaikan dengan senyum ceria
Meski terkadang sembunyikan air mata
Namun kuyakin, semua tak kan sia-sia

Ini bukan puisi
Hanya sekadar ucapan tak berarti

Ciputat, 18 Februari 2014

Kiki Oktaviani Ikutan pastisipasi ah, walau telat 

_Bunda Selamat Hari Lahir ya_  

Kado Cinta Sederhana

Terima Kasih untuk cintamu, Bunda
Selalu ada saat lelah melanda
Mengajarkan ketekunan ketika aku lupa

Bunda
Terima kasih untuk ketulusan itu
Menemani disela waktu yang padat
Menyapa kami satu persatu disini :
kelas tanpa jarak

Kali ini tanggal delapanbelas bulan kedua
Telah kutitipkan doa kepada Tuhan
Sebuah kado cinta sederhana
Untuk bahagia jiwa juga raga
Atas namamu Menning Alamsyah

Arief Sang Orrion Bukan karena 'sesuatu' ... tapi ikutan, ah. 

Saban hari kaurangkum kata-kata dalam beranda,
dan entah harus kusebut apa
wahai Bida yang terjebak segala rasa;

Sayembara ini, Hengki Kumayandi 'kan mengakhiri sampai tengah malam ini
dan entah harus kubuatkan puisi apa
wahai Bida yang menangkup segala rasa;

Adakah kau tersenyum saat mendapati guratan yang menggambarkan senja?

Ah, sudahlah.
Tak ada satu pun penawar kemustajaban 
bakal membawamu kembali lagi ke masa yang tak pernah mengenal luka

Di sini, aku 'kan selalu mendoakan
saat kau masih menuliskan jejak-jejak kehidupan 
pada lembaran yang mendekati kematian,
kau selalu dilindungi oleh Tuhan dari para

: Dasin

Selamat Ulang Tahun, Menning Alamsyah. 


Palembang, 18 Februari 2014


Arikmah Kamal 
Wanita...
Perasaanmu sehalus salju
Cintamu seluas samudra
Perjuanganmu lebih gigih dari Cut Nyak Dien
Memberikan yang terbaik untuk orang yang kau cintai

Wanita itu kau
Tanpa celah di mataku
Ketegaranmu bak batu karang
Yang tak pernah mengeluh 
Meski terhantam ombak,
terik panas dan guyuran hujan
Kau mampu berdiri tegak

Jika Allah menunjukkan daftar nama penghuni surga
Mungkin namamu tercatat dideretan tinda barokallah

Wanita yang terindah yang pernah ada
Bunda impian dari setiap anak
Pasangan halal dunia akhirat bagi sang suami
Kau adalah yang terbaik yang diberikan Allah di kobimo.

# Mbak Menning Alamsyah, ini kadoku untukmu, tetap semangat menyosong masa depan yang lebih cerah

Yhati Melody
Aku masih sama 
Yang dulu menancapkan sosokmu dalam jiwa
Melukis parasmu di hati
Tak inginku melihatmu perih

Aku bukan mereka yang mengumbar sayang.
Cukup rasa itu ku tambatkan untukmu di hati
Aku hanya kehilangan kata tuk mengusir pedihmu
Andai saja tangan ini mampu menyentuhmu,
Tak akan aku biarkan tetesan kesedihan itu melunturkan senyummu
Jika saja aku memiliki satu permohonan
Ku akan meminta untuk slalu memelukmu saat kau kedinginan
Mendekapmu penuh hangat

Jangan menangiis lagii..
Jangan sedih lagi
Kau tahu,
Goresan-goresan lukamu slalu buatku merenung?
Bahkan sukmaku melebur bersama dukamu.
Teh,
Aku tidak seperti mereka yang mampu merangkai kata indah
Hanya kata hati yang bisa ku persembahkan untukmu
Aku juga tidak akan bisa bersaing dengan mereka untuk mengikuti sayembara itu.
( teteh tau kan Amel nggak bisa nulis puisi. )
Masih ingatkah tentang asaku dulu?
Aku selalu berdoa agar Dia mengabulkannya.
Menunggu tanganmu menuntunku pada hidup yang baru.
Selamat ulang tahun, Teh
telat ya?
Amel nggak pa2 jadi orang yang terakhir.
Orang pertama dan terakhir itu kan selalu terkenang.
Mmmmmmuuuuaaaach

Rahman El Hakim jenuh aku mendengar kicau kabar dari angin tentang ikhtibar-ikhtibar. pun juga isyarat yang dibawa burung-burung prenjak. ada kupu-kupu beterbangan di kelopak-kelopak anggrek. sayapnya bergoyang seirama bayu.

ada rindu dalam jarak yang terbentang. keheningan yang mengeram dalam roda waktu. dan aku dengan berani menamakannya syahdu

angin masih tetap semilir mencumbu tangkai-tangkai anggrek. kupu-kupu sudah hinggap di dekat jendela. tinggal aku menikmati kidung masa lalu. sajak batu-batu
aku
kamu 
merangkum bisu

"sepertinya begini lebih baik Bibi Menning Alamsyah...

Mohon maaf Bibi... belum sempat mendoakan dengan tepat

Happy Birthday Aunti Menning...
Selamat mengkaji, meresapi, menjalani, dan menikmati sisa umur yang telah dipercayakan Tuhan kepada Bibi

SUKSES SELAMAT SEJAHTERA
amiin 
Amiin
AMIIN

Rabu, 19 Juni 2013

PUISIKU YANG DIMUAT HU KABAR CIREBON, HARI SABTU TANGGAL 08 JUNI 2013

HANYA PADAMU

di subuh sendu
kulangkahkan kaki 
terseok susuri jalan-Mu
ditemani tetesan peluh
dan kedua sungai kecil
yang menderas luruh

suara rintihan biru hatiku
mengoyak lembar kelam keheningan-Mu
‘kan kuadukan semua gejolak pilu
hanya pada-Mu
ya, hanya pada-Mu

Kau satu
satu-satunya yang mengerti
satu-satunya yang masih menemani
satu-satunya yang kupercayai
satu-satunya yang setia mendengarku berbagi
hanya pada-Mu
ya, hanya pada-Mu

Cirebon, 08 Agustus 2012

PADA DIA

satu per satu menjauh
tinggalkan jejak membiru
berupa luka nganga di bongkahan dadaku
dan aku masih membisu

di pekat malam
kutitipkan berjuta pesan
pada desau angin nan girang
pada daun-daun bergoyang
pada Dia yang menghembuskan angin
pada Dia yang membelai daun-daun
pada Dia yang selalu ada
menemaniku dalam suka dan duka
jangan berpaling dariku walau sekejap saja

Cirebon, 06 September 2012

Selasa, 11 Juni 2013

PUISI DI ULTAHNYA MBAK RATNA

HARI JADI
oleh: Menning Alamsyah

dalam remang dunia maya aku mengenalmu 
lewat jempol indah yang menyapa
lalu menjelma rasa 
berbunga sapa dan canda

30 puisi menjadi saksi
kita tautkan imajinasi
sebagai sahabat terkasih
dan kenang itu tersimpan rapi
hingga kini

di hari jadimu
mampuku kirimkan permohonan tuk Ilahi robbi
semoga bahagia kan selalu kauraih
ukir senyum indah ‘tuk permata hati
seiring hembus napas yang Dia beri

Sahabat, selamat mengulang hari lahir
ingatlah! walau jarak jauh terbentang
namun kau nyata di sudut hati

Cirebon, 11 Juni 2013

Hari ini, Mbak Ratna membalas puisi saya itu seperti ini:
Terima Kasih, Sahabat

senyum manis nan merekah

sapa salam hangat indah
segala perhatian meruah

saling berbagi
saling mengerti
temukan inspirasi

rangkaian doa dipanjatkan
sebaris harapan disematkan

darimu
untukku 

terima kasih, sahabat
hadirmu memberiku semangat

***

Bandung, 11 Juni 2013
Terima kasih, Mbak Menning...

Rabu, 01 Mei 2013

BENARKAH KAU MENCINTAIKU?

Cerpen ini awalnya berjudul WANITA DAN CERITA HIDUPNYA, tapi dimuat HU. Kabar Cirebon, hari Sabtu, tanggal 27 April 2013, dengan judul ini:
BENARKAH KAU MENCINTAIKU?

Aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita cacat tak berdaya. Kecelakaan itu telah merenggut kebebasanku. Kini, di atas kursi rodalah segalanya kuandalkan. Kutatap lekat sebuah foto pernikahan di layar monitor. Foto suamiku dan istri barunya. Pasca kecelakaan yang menimpaku, kuijinkan suamiku menikah lagi. Keputusan yang diprotes Ratna, temanku.

“May, seharusnya tak begitu mudah kau memberi izin Hans menikah lagi.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan Rat. Aku tak mungkin menghalangi kebebasan Hans.” 
“Ya, memang. Namun Hans tak semestinya memperlakukanmu seperti ini.”
“Entahlah Rat. Aku hanya wanita cacat. Tak ada alasan aku melarang Hans. Dia tidak menceraikan aku saja. Aku sudah cukup bahagia.”
“May, aku mengerti perasaanmu. Aku percaya kamu akan mampu melewati ini semua.”
“Semoga Rat. Aku percaya tak ada yang sia-sia.”
“Ya, May. Aku kagum padamu. Kamu relakan suamimu membawa wanita lain ke dalam rumahmu.”

Aku tak menjawab. Kuwakili jawabanku dengan senyuman dan Ratna tak berani mengusikku lagi. Ditinggalkannya aku di ruanganku seorang diri. Walau di atas kursi roda aku masih bekerja. Beruntung pihak perusahaan mengijinkan. Toh, aku hanya tak bisa berjalan, aku masih bisa mengetik huruf demi huruf di keyboard komputer.
Setahun sudah Hans menikah dengan Siska, dan kebahagiaanku sedikit demi sedikit mulai menjauh hingga benar-benar hilang saat Hans menemuiku siang itu. 

“May, sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Kutatap mata coklat Hans. Tubuhnya yang tegap dan kulitnya yang putih sungguh mewakili ketampanannya. Didorongnya kursi rodaku ke ruang tengah.
“Apa Mas?”
“Aku tak sampai hati menyampaikan ini padamu May.”
“Sebenarnya ada apa Mas?” Hans tak segera menjawab, digenggam erat jemariku. Tangannya yang kokoh dan bulu halus di lengannya itu selalu mendamaikan hatiku. “Mama memintaku bercerai darimu.”
“Apa?”
“Iya, May. Aku juga tak ingin seperti ini, tapi Siska memintaku memilih kamu atau dia dan Siska kini sedang mengandung.”

Aku menelan ludah, kukuatkan hati. Aku tak ingin menangis di depan Hans. 
“Lalu mama tahu tentang hal itu dan mama memilih Siska.”
Lagi-lagi kutelan ludahku dan kini terasa lebih pahit. Tenggorokanku semakin terasa sakit. Sayatan-sayatan perih pun mulai merajam hatiku. Aku masih membisu. Tak ada satu kata pun yang mampu kuucapkan dari bibirku. 

“May, maafkan aku. Aku masih mencintaimu, tapi aku harus memilih.”
Mataku memanas. Kutahan gejolak yang menghentak dada. Aku hanya 
menunggu, kata apa lagi yang keluar dari bibir Hans. Kata itu juga yang akan mengantar ke nasib hidupku selanjutnya. 

“May, aku harus menceraikanmu, maafkan aku.” Hans memelukku erat, kini pipiku basah tak mampu kutahan lagi. Kubalas pelukan Hans erat. Tak ingin kulepas pelukan itu. Kami pun saling mendekap. “Ya Allah, benarkah ini? Aku harus merelakannya. Ya, Allah aku tahu aku harus ikhlas.”
Dengan derai air mata, kulepas Hans pergi. Dia masih menatapku saat Siska datang. Buru-buru kuhapus air mataku. “May, aku minta maaf. Aku harap kau tak membenciku.” 

Aku tersenyum pahit, aku tak perlu basa-basi itu. Aku manusia biasa yang juga bisa terluka. “Sudahlah Sis, tak perlu membahas itu saat ini. Ayuk kita ke rumah mama,” ajak Hans sembari menggandeng tangan Siska.

Hatiku perih. Kupandangi mereka berdua hingga punggungnya menghilang di balik pintu. Hans, benarkah kau mencintaiku? Cinta seperti apa? mengapa kini kau tinggalkan aku di saat aku sangat membutuhkanmu? Berbagai pertanyaan berdesakan dalam dadaku. Aku sungguh benci hidupku.

Hari-hariku terasa kelam. Menangis dan menangis. Masa depanku terlihat gelap. Aku hanya wanita cacat. Aku tak punya siapa-siapa, bahkan laki-laki yang kucintai dan belum genap dua tahun pernikahan kami, kini dia meninggalkanku. Hanya keputusan pengadilan tentang perceraianlah yang akan menghampiriku dan setelahnya mungkin aku akan diusir dari rumah ini.

Beberapa kali hp-ku berdering. Aku tak minat walau hanya sekedar melihat siapa yang meneleponku. Sudah tiga hari ini aku tak masuk kantor. Kulirik hpku saat berbunyi lagi, ternyata Ratna yang mengirimkan sms. 

“May ... kamu ke mana aja? Kamu baik-baik aja kan?”
“Rat, ke rumahku ya, aku tunggu.” Hanya itu balasanku.
Setengah jam kemudian kulihat Ratna tergopoh. Dadaku terasa penuh. Ingin rasanya aku berlari menghambur dalam pelukannya. Seandainya saja aku tak cacat seperti sekarang.

“May, kamu kenapa ditelepon beberapa kali kok gak diangkat, ada apa?”

Kuseka air mataku, “Hans akan menceraikanku Rat.”

“Apa?”

“Iya, aku hanya tinggal menunggu surat putusan pengadilan.”

“Ya, Tuhan. May ...” Ratna memelukku erat. “Sabar ya ...”

“Aku bosan dengan kata sabar itu Rat. Apa yang aku harapkan dari hidupku sekarang.”

“May, gak boleh ngomong gitu.”

“Coba bayangkan Rat. Aku cacat. Aku tak memiliki siapa pun di dunia ini.”

“May, percayalah. Tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Allah tidak akan membiarkanmu sendirian.”

“Nyatanya aku sendirian, Rat.”

“May, aku masih di sampingmu.” 

“Rat, kamu memiliki keluarga, suami, anak. Sudah begitu banyak kesibukanmu. Aku hanya akan membuatmu repot.”

“May, percayalah aku akan membantumu.”

“Aku percaya. Kamu memang baik, Rat. Sekarang aku ingin sendiri, tolong tinggalkan aku.”

“Tapi, May ...”

“Sudahlah Rat. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih kamu sudah datang ke rumahku.”

Alunan syahdu suara Once mendendangkan Dealova tiba-tiba terdengar dari hp Ratna. Dengan tergesa Ratna mengangkat hp itu.
“Iya Pa, mama akan segera pulang,” ucap Ratna dengan suara ketakutan. Kulihat wajahnya yang gusar.
“Maaf ya May. Suamiku sudah menelepon. Aku harus pulang.”
“Pulanglah. Aku akan baik-baik saja.” Dengan terburu Ratna meninggalkanku. Sudah berkali kulihat ekspresi wajahnya yang ketakutan ketika suaminya menelepon. “Ratna, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Jadi mana mungkin aku menambah bebanmu,” gumamku lirih.

***
Rintik hujan masih terdengar satu-satu. Pikiranku sedang berlayar ke samudra kehidupan. Ratna, teman baikku yang tangguh. Dia tak pernah mengeluh dan menyampaikan masalah dalam rumah tangganya dan aku sendiri menyimpulkan ada yang telah disembunyikannya dariku. Aku tak berusaha memaksanya bercerita. Sedangkan untuk diriku sendiri, telah kuputuskan dengan perenungan yang mendalam. Aku harus melewati semua ini. Aku harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhanku. Beruntung Hans tak mengusirku dari rumah ini. Aku masih bisa menempatinya.

“Bu, ini tehnya.” Wanita paruh baya menghampiriku. Bi Surti. Dia akan menjadi kakiku dan mengantar ke mana pun aku pergi. “Tak ada yang tak berarti dalam hidup ini. Selama kita memberinya arti walau pahit sekalipun,” tulisku di sebuah jejaring sosial.

Cirebon, 17 April 2013