Ini kiriman dari Pustaka e-book
Judul: Rona Kehidupan
Penulis: Menning Alamsyah
Penyunting: Tim Pustaka Hanan
Penerbit Digital: Pustaka Hanan
Tebal: 48 Halaman
Size: 1,4 MB
E-Book ini adalah kerjasama Perpustakaan Online dengan komunitas menulis PNBB (Proyek Nulis Buku Bareng)
“Rona Kehidupan” adalah buku elektronik pertama yang ditulis oleh Menning Alamsyah. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang sudah dimuat di berbagai media, baik media online maupun media cetak seperti Malang Post. E-book dengan judul “Rona Kehidupan” ini adalah bukti perjalanan penulis di dunia tulis-menulis.
Cerpen-cerpen yang termuat dalam e-book ini mengisahkan tentang rona kehidupan yang harus kita cecap. Liku-liku hidup yang tak selalu indah dan tak selamanya apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Keprihatinan penulis kepada Lesbian yang coba ia tulis pada diri Hika, kesedihan seorang istri yang sering berbohong terwakili pada diri Amelia, keberanian mengatakan kebenaran pada diri Rani, sekelumit kisah anak jalanan pada Rifki dan Naina, serta kesetiaan cinta pada Nadya dan rindu yang datangnya di saat yang tak tepat.
Silakan unduh gratis di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-38-rona-kehidupan/
Minggu, 28 April 2013
Minggu, 21 April 2013
EMANSIPASI
PUISI TELAH DIMUAT DI LINK:http://www.bengkelpuisi.net/330/post/2013/02/emansipasi.html
Wangi semerbak melati
di sanggul kartini
Wanita penggigih
emansipasi
Wajah Kartini pucat pasi
melihat wanita masa kini
melenggang jajakan diri
disanding poligami
dan ajang latihan bela diri
dimanakah emansipasi ?
apakah kodrati atau takdir ilahi ?
Cirebon, 21 April 2012
Wangi semerbak melati
di sanggul kartini
Wanita penggigih
emansipasi
Wajah Kartini pucat pasi
melihat wanita masa kini
melenggang jajakan diri
disanding poligami
dan ajang latihan bela diri
dimanakah emansipasi ?
apakah kodrati atau takdir ilahi ?
Cirebon, 21 April 2012
Senin, 01 April 2013
KORBAN CINTA PALSU
Cerpenku yang sudah dimuat HU Kabar Cirebon, hari sabtu tanggal 30 Maret 2013. Dengan judul awal dari saya SEDALAM LUKA yang diganti redakturnya menjadi KORBAN CINTA PALSU
Rima asyik memandang layar monitor di hpnya dan Andi sibuk menghadapi layar monitor komputer yang biasa dipakai Rima.
“Wah, berduaan aja nich.” Suara itu, suara Jodi. Laki-laki yang sedari tadi bolak balik melewati ruangan Rima.
“Hmm, ya gaklah. Kok berduaan sich? Di ruangan lain kan banyak. Aneh,” ujar Rima agak ketus. Sementara Jodi sudah berlalu menuju ruangannya. Tadi Jodi juga sudah menyapa Rima sebelum ada Andi, tapi Rima tetap datar menjawabnya.
Masih lekat dalam ingatan Rima bagaimana dulu Jodi selalu menyanjungnya penuh cinta. Bahkan ucapan cinta Jodi berkali-kali diungkapkannya lewat telepon hingga hari itu mereka memutuskan bertemu setelah jam pulang kantor. Jodi menemui Rima di ruangannya.
“Kenapa kamu gak pernah percaya kalau aku cinta kamu.”
“Cinta? Aku ...” Rima menunduk malu.
Jodi mendekatinya, “Iya, aku mencintaimu Rima dari sejak aku melihatmu siang itu.”
“Aku juga, tapi aku gak mau terlalu geer. Sebelum kamu menyampaikan sendiri,” sahut Rima dengan pipi memerah.
“Aku kan sudah menyampaikan lewat telepon.”
“Iya, kenapa kamu gak menemuiku langsung selama ini?” tanya Rima dengan bola mata yang menelisik wajah Jodi.
“Aku gak mau seisi kantor ini ribut. Jadi, biarlah kita berdua saja yang tahu.”
“Bener? Yang aku tahu kamu kan dekat sama Sinta. Gosipnya kalian pacaran tuch.”
“Aku sama dia? Gak ada kok. Gak ada yang spesial. Aku dekat sama Shinta karena satu ruangan aja.”
“Ah, yang bener?”
“Bener, sayang.”
“Sayang?”
“Iya, sayang. Aku memang sayang sama kamu kok.”
Dada Rima bergetar. Rasa yang dipendamnya begitu lama kini menjadi nyata. Jodi, dia benar mencintainya. Setidaknya tatapan mata Jodi yang telak menusuk jantungnya itu menjadi pertandanya. Senyum manis di bibir tipis Jodi itu menambah Rima tak ingin berpaling menelanjangi wajah Jodi.
“Rima, kamu terima kan ucapan cinta ini?”
Rima tak menjawab. Dianggukkan kepalanya dengan binar bahagia dan hari itu awal semuanya bermula. Mereka berjalan beriringan menuju motor Jodi lalu berboncengan menyusuri senja yang mulai menjelang.
***
“Rima, kamu tahu gak sih kalau Lukita itu mau nikah sama Jodi.” Suara Shinta yang tiba-tiba terdengar dengan nada ketus itu seketika menghentikan aktivitasnya di depan komputer. Rima menatap wajah Shinta lurus.
“Apa?” Rima berusaha menyimpan rasa keterkejutannya. Hubungannya dengan Jodi adalah hubungan rahasia yang tak diketahui siapa pun teman kantornya. Tidak juga Shinta.
“Iya, aku denger gitu.” Mendengar jawaban Shinta serasa ada yang copot dari hatinya.
“Rima, aku mau curhat. Sebenarnya aku sama Jodi...” Shinta tak meneruskan kata-katanya. Matanya mulai berkaca.
“Shinta, sebenarnya ada apa?”
“Rima, aku sama Jodi udah ...” air mata Shinta mulai membasahi pipinya yang bulat. Ada rasa ngilu di hati Rima.
“Udah apa? Kalian ..”
“Aku terbawa suasana. Rayuan maut Jodi telah merenggut kesucianku.”
“Apa?” rasa sesak seketika menohok jantung Rima.
“Jadi malam itu aku rela menyerahkan segalanya. Terjadi begitu saja.”
Rima tak bersuara. Mengamati wajah Shinta yang memilukan, dan pancaran yang sama pun terlihat dari wajahnya. Sungguh perih rasanya menyadari mereka berdua adalah korban Jodi. Rima masih membisu.
“Rima, kamu kok malah diam aja. Aku mesti gimana?”
“Shinta, Jodi kan belum tentu menikahi Lukita, jadi mintalah penjelasan dari Jodi.”
“Rima, aku sangat mencintai Jodi. Aku sudah berkorban dan aku tak menyangka dia akan mencampakkanku seperti ini.”
“Shinta, aku gak tahu harus gimana. Coba minta penjelasan ke Jodi aja. Kepalaku pusing. Aku mau ijin pulang aja nih.”
“Rima, kamu kenapa? Kok mau nangis gitu?”
“Aku pulang dulu ya. kepalaku pusing. Tolong sampaikan ke Mbak Fanny ya.” Rima berlalu meninggalkan Shinta yang bengong tak mengerti.
Sesampai di kamar kosnya Rima mengaduk-aduk isi tasnya mencari hpnya yang terselip di antara dompet dan kotak kosmetik. Sesaat kemudian jarinya memencet sebuah nama yang ada di phonebooknya, Jodi. Sementara di seberang sana hanya terdengar suara tut tut. Rima mencoba beberapa kali dan kali ini terdengar suara menyahut, tapi suara operator telepon, “maaf nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif.”
Rima lemas. Keringat dingin mengucur deras. “Oh Tuhan, masih pantaskah aku memohon. Aku hanya butuh penjelasan dari Jodi. Apa benar yang telah dikatakan Shinta?” tanyanya di hati. Sejak hari itu Jodi menjauhinya. Jangankan menelepon atau mengirimkan sms. Telepon dan sms Rima tak satupun dibalas. Jodi sengaja menghindari Rima.
***
Suasana kantor yang riuh hari itu menambah kepenatan Rima. Ditatapnya undangan pernikahan berwarna biru berpita warna pink yang tergeletak di atas meja kerjanya. Mata Rima sembab. Rasa sesak menguliti hatinya. Jelas-jelas tertera dalam undangan itu. Jodi Prabawa dan Lukita Handayani. Jodi? Begitu tega dia tak menyampaikan apa pun hingga undangan itu diterimanya. Bagaimana bisa Jodi tak memperdulikan hati Rima? Bukankah Jodi telah berjanji akan mencintai Rima di sepanjang hidupnya dan Rima telah menyerahkan semua miliknya. Termasuk hal yang paling berharga. Tandas, tak bersisa.
Air mata Rima mulai menetes satu-satu. Rima memutuskan berlari ke kamar mandi. meluapkan tangisnya yang tak terbendung lagi. Langit seakan runtuh. Gelap yang tiba-tiba hadir memenuhi ruang kamar mandi. Rima sekuat tenaga menahan udara pengap yang tiba-tiba saja menyeruak. Rima limbung, tak mampu meneruskan aktivitasnya di kantor. Meninggalkan kantornya tanpa ijin adalah satu-satunya cara menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur.
Di sepanjang jalan kenangan-kenangan bersama Jodi seakan membanjiri ingatannya. Tiba-tiba rasa cinta yang tadinya begitu besar menghilang berubah menjadi bongkahan benci yang mengkristal di hatinya. Pengakuan Shinta dulu yang mengatakan bahwa Jodi telah merenggut kesuciannya adalah kali pertama luka itu mengangga. Dan undangan ini bukti nyata bahwa Rima adalah korban kebiadaban Jodi. Rima menyesal telah menyerahkan semuanya. Apalagi yang kini bisa dibanggakan. Sebagai wanita Rima telah kehilangan harga dirinya.
Jodi masih berhutang penjelasan padanya, tapi apakah perlu untuk ditagih. Undangan pernikahan itu telah tersebar dan tak mungkin Rima menyakiti hati wanita lainnya. Setidaknya Lukita tak mengalami hal yang sama dengan Shinta dan dirinya. Rima tak berupaya, begitupun Shinta, dan kenangan itu terbang seiring debu meninggalkan jejak yang menyakitkan.
Rima memasuki kamar kosnya dengan gontai. Dibenamkan tubuhnya di kasur busa dengan posisi telungkup dan banjir air mata menghanyutkan wajahnya. Dinding kamarnya yang berwarna biru dan sprei merah muda menjadi saksi bisu kesedihannya. Sementara suasana terasa semakin hening bagi Rima.
***
Hari ini kenangan itu hadir seiring sosok Jodi. Sejak undangan itu tersebar dan hingga lima tahun ini Rima masih membujang dan Jodi tak pernah merasa salah. Meminta maaf pun tak pernah. Seperti kata Jodi yang disampaikan ke Shinta kalau Jodi tak sepenuhnya salah. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Sikap Jodi yang tak sungkan menyapanya membuat Rima semakin kesal. “Jodi aku telah menguburmu dengan kebencian dalam palung hatiku yang terdalam, sedalam lukaku karena penghianatanmu. Haruskah aku masih percaya terhadap makluk yang bernama laki-laki?” batin Rima setelah Andi meninggalkannya sendiri.
Cirebon, 13 Februari 2013
Rima asyik memandang layar monitor di hpnya dan Andi sibuk menghadapi layar monitor komputer yang biasa dipakai Rima.
“Wah, berduaan aja nich.” Suara itu, suara Jodi. Laki-laki yang sedari tadi bolak balik melewati ruangan Rima.
“Hmm, ya gaklah. Kok berduaan sich? Di ruangan lain kan banyak. Aneh,” ujar Rima agak ketus. Sementara Jodi sudah berlalu menuju ruangannya. Tadi Jodi juga sudah menyapa Rima sebelum ada Andi, tapi Rima tetap datar menjawabnya.
Masih lekat dalam ingatan Rima bagaimana dulu Jodi selalu menyanjungnya penuh cinta. Bahkan ucapan cinta Jodi berkali-kali diungkapkannya lewat telepon hingga hari itu mereka memutuskan bertemu setelah jam pulang kantor. Jodi menemui Rima di ruangannya.
“Kenapa kamu gak pernah percaya kalau aku cinta kamu.”
“Cinta? Aku ...” Rima menunduk malu.
Jodi mendekatinya, “Iya, aku mencintaimu Rima dari sejak aku melihatmu siang itu.”
“Aku juga, tapi aku gak mau terlalu geer. Sebelum kamu menyampaikan sendiri,” sahut Rima dengan pipi memerah.
“Aku kan sudah menyampaikan lewat telepon.”
“Iya, kenapa kamu gak menemuiku langsung selama ini?” tanya Rima dengan bola mata yang menelisik wajah Jodi.
“Aku gak mau seisi kantor ini ribut. Jadi, biarlah kita berdua saja yang tahu.”
“Bener? Yang aku tahu kamu kan dekat sama Sinta. Gosipnya kalian pacaran tuch.”
“Aku sama dia? Gak ada kok. Gak ada yang spesial. Aku dekat sama Shinta karena satu ruangan aja.”
“Ah, yang bener?”
“Bener, sayang.”
“Sayang?”
“Iya, sayang. Aku memang sayang sama kamu kok.”
Dada Rima bergetar. Rasa yang dipendamnya begitu lama kini menjadi nyata. Jodi, dia benar mencintainya. Setidaknya tatapan mata Jodi yang telak menusuk jantungnya itu menjadi pertandanya. Senyum manis di bibir tipis Jodi itu menambah Rima tak ingin berpaling menelanjangi wajah Jodi.
“Rima, kamu terima kan ucapan cinta ini?”
Rima tak menjawab. Dianggukkan kepalanya dengan binar bahagia dan hari itu awal semuanya bermula. Mereka berjalan beriringan menuju motor Jodi lalu berboncengan menyusuri senja yang mulai menjelang.
***
“Rima, kamu tahu gak sih kalau Lukita itu mau nikah sama Jodi.” Suara Shinta yang tiba-tiba terdengar dengan nada ketus itu seketika menghentikan aktivitasnya di depan komputer. Rima menatap wajah Shinta lurus.
“Apa?” Rima berusaha menyimpan rasa keterkejutannya. Hubungannya dengan Jodi adalah hubungan rahasia yang tak diketahui siapa pun teman kantornya. Tidak juga Shinta.
“Iya, aku denger gitu.” Mendengar jawaban Shinta serasa ada yang copot dari hatinya.
“Rima, aku mau curhat. Sebenarnya aku sama Jodi...” Shinta tak meneruskan kata-katanya. Matanya mulai berkaca.
“Shinta, sebenarnya ada apa?”
“Rima, aku sama Jodi udah ...” air mata Shinta mulai membasahi pipinya yang bulat. Ada rasa ngilu di hati Rima.
“Udah apa? Kalian ..”
“Aku terbawa suasana. Rayuan maut Jodi telah merenggut kesucianku.”
“Apa?” rasa sesak seketika menohok jantung Rima.
“Jadi malam itu aku rela menyerahkan segalanya. Terjadi begitu saja.”
Rima tak bersuara. Mengamati wajah Shinta yang memilukan, dan pancaran yang sama pun terlihat dari wajahnya. Sungguh perih rasanya menyadari mereka berdua adalah korban Jodi. Rima masih membisu.
“Rima, kamu kok malah diam aja. Aku mesti gimana?”
“Shinta, Jodi kan belum tentu menikahi Lukita, jadi mintalah penjelasan dari Jodi.”
“Rima, aku sangat mencintai Jodi. Aku sudah berkorban dan aku tak menyangka dia akan mencampakkanku seperti ini.”
“Shinta, aku gak tahu harus gimana. Coba minta penjelasan ke Jodi aja. Kepalaku pusing. Aku mau ijin pulang aja nih.”
“Rima, kamu kenapa? Kok mau nangis gitu?”
“Aku pulang dulu ya. kepalaku pusing. Tolong sampaikan ke Mbak Fanny ya.” Rima berlalu meninggalkan Shinta yang bengong tak mengerti.
Sesampai di kamar kosnya Rima mengaduk-aduk isi tasnya mencari hpnya yang terselip di antara dompet dan kotak kosmetik. Sesaat kemudian jarinya memencet sebuah nama yang ada di phonebooknya, Jodi. Sementara di seberang sana hanya terdengar suara tut tut. Rima mencoba beberapa kali dan kali ini terdengar suara menyahut, tapi suara operator telepon, “maaf nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif.”
Rima lemas. Keringat dingin mengucur deras. “Oh Tuhan, masih pantaskah aku memohon. Aku hanya butuh penjelasan dari Jodi. Apa benar yang telah dikatakan Shinta?” tanyanya di hati. Sejak hari itu Jodi menjauhinya. Jangankan menelepon atau mengirimkan sms. Telepon dan sms Rima tak satupun dibalas. Jodi sengaja menghindari Rima.
***
Suasana kantor yang riuh hari itu menambah kepenatan Rima. Ditatapnya undangan pernikahan berwarna biru berpita warna pink yang tergeletak di atas meja kerjanya. Mata Rima sembab. Rasa sesak menguliti hatinya. Jelas-jelas tertera dalam undangan itu. Jodi Prabawa dan Lukita Handayani. Jodi? Begitu tega dia tak menyampaikan apa pun hingga undangan itu diterimanya. Bagaimana bisa Jodi tak memperdulikan hati Rima? Bukankah Jodi telah berjanji akan mencintai Rima di sepanjang hidupnya dan Rima telah menyerahkan semua miliknya. Termasuk hal yang paling berharga. Tandas, tak bersisa.
Air mata Rima mulai menetes satu-satu. Rima memutuskan berlari ke kamar mandi. meluapkan tangisnya yang tak terbendung lagi. Langit seakan runtuh. Gelap yang tiba-tiba hadir memenuhi ruang kamar mandi. Rima sekuat tenaga menahan udara pengap yang tiba-tiba saja menyeruak. Rima limbung, tak mampu meneruskan aktivitasnya di kantor. Meninggalkan kantornya tanpa ijin adalah satu-satunya cara menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur.
Di sepanjang jalan kenangan-kenangan bersama Jodi seakan membanjiri ingatannya. Tiba-tiba rasa cinta yang tadinya begitu besar menghilang berubah menjadi bongkahan benci yang mengkristal di hatinya. Pengakuan Shinta dulu yang mengatakan bahwa Jodi telah merenggut kesuciannya adalah kali pertama luka itu mengangga. Dan undangan ini bukti nyata bahwa Rima adalah korban kebiadaban Jodi. Rima menyesal telah menyerahkan semuanya. Apalagi yang kini bisa dibanggakan. Sebagai wanita Rima telah kehilangan harga dirinya.
Jodi masih berhutang penjelasan padanya, tapi apakah perlu untuk ditagih. Undangan pernikahan itu telah tersebar dan tak mungkin Rima menyakiti hati wanita lainnya. Setidaknya Lukita tak mengalami hal yang sama dengan Shinta dan dirinya. Rima tak berupaya, begitupun Shinta, dan kenangan itu terbang seiring debu meninggalkan jejak yang menyakitkan.
Rima memasuki kamar kosnya dengan gontai. Dibenamkan tubuhnya di kasur busa dengan posisi telungkup dan banjir air mata menghanyutkan wajahnya. Dinding kamarnya yang berwarna biru dan sprei merah muda menjadi saksi bisu kesedihannya. Sementara suasana terasa semakin hening bagi Rima.
***
Hari ini kenangan itu hadir seiring sosok Jodi. Sejak undangan itu tersebar dan hingga lima tahun ini Rima masih membujang dan Jodi tak pernah merasa salah. Meminta maaf pun tak pernah. Seperti kata Jodi yang disampaikan ke Shinta kalau Jodi tak sepenuhnya salah. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Sikap Jodi yang tak sungkan menyapanya membuat Rima semakin kesal. “Jodi aku telah menguburmu dengan kebencian dalam palung hatiku yang terdalam, sedalam lukaku karena penghianatanmu. Haruskah aku masih percaya terhadap makluk yang bernama laki-laki?” batin Rima setelah Andi meninggalkannya sendiri.
Cirebon, 13 Februari 2013
Senin, 25 Maret 2013
KEKASIHKU YANG PUISI
Sayang, aku mendekapmu malam ini
mengurai kehangatan
dengan putih dan hitam cintamu
jangan pernah tinggalkan aku lagi
sendiri dengan gigil rindu yang menguliti
Sayang, aku ingin semakin erat memelukmu
karena bersamamu aliran darahku terasa mendidih
agar kunikmati gejolak yang menghentak dada
dengan membelaimu kata demi kata
Ah, resah gelisahku telah tercurah
hingga hadirkan letupan nikmat tiada tara
sayang, kau memang kekasih
yang paling puisi
Cirebon, 18 Maret 2013
mengurai kehangatan
dengan putih dan hitam cintamu
jangan pernah tinggalkan aku lagi
sendiri dengan gigil rindu yang menguliti
Sayang, aku ingin semakin erat memelukmu
karena bersamamu aliran darahku terasa mendidih
agar kunikmati gejolak yang menghentak dada
dengan membelaimu kata demi kata
Ah, resah gelisahku telah tercurah
hingga hadirkan letupan nikmat tiada tara
sayang, kau memang kekasih
yang paling puisi
Cirebon, 18 Maret 2013
Kamis, 21 Maret 2013
TAK ADA YANG ABADI
menandai hari berganti
kusesap pahit empedu
dari perih yang merajai
tahukah kau?
telah kutambal lubang nganga di hati
‘tuk sesaji sepasang merpati
ah, tak mesti terlontar tanya
andai kupahami keikhlasan
sejatinya, tak ada yang abadi
dan harap itu masih berpijar
seiring pendaran mentari
Cirebon, 19 Maret 2013
kusesap pahit empedu
dari perih yang merajai
tahukah kau?
telah kutambal lubang nganga di hati
‘tuk sesaji sepasang merpati
ah, tak mesti terlontar tanya
andai kupahami keikhlasan
sejatinya, tak ada yang abadi
dan harap itu masih berpijar
seiring pendaran mentari
Cirebon, 19 Maret 2013
Selasa, 19 Maret 2013
KECEWA BERAT
Puisi ini ada juga di link ini, saat akun saya bernama Ning Menning di FB:
http://www.bengkelpuisi.net/ning-menning.html
kuurai mimpi di antara nyata
yang memahat beribu harap
melambungkan berjuta hasrat
namun baru sebatas hajat
lalu melesat
lenyap
tak tersemat
walau hanya sekejap
Cirebon, April 2012
http://www.bengkelpuisi.net/ning-menning.html
kuurai mimpi di antara nyata
yang memahat beribu harap
melambungkan berjuta hasrat
namun baru sebatas hajat
lalu melesat
lenyap
tak tersemat
walau hanya sekejap
Cirebon, April 2012
Kamis, 14 Maret 2013
BAGIMU
aku terdampar pada padang luas membentang
senyap. suara angin mendesau girang
mencumbu daun-daun ilalang
ilalang bergoyang seperti penari streptis jalang
lunglai tubuhku di antara riang
tertancap berjuta pedang
menghujam
sebarkan racun kematian
aku sekarat
tak sanggup mendebat
sebab nafasku tersengal
nyaris terpenggal
tak berdaya
karena aku bukan sesiapa
hanya ada di antara tak ada
bagimu. ya, bagimu!
Cirebon, 25 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

